Selasa, 23 Oktober 2012

Bersabar Dalam Menuntut Ilmu

Ada beberapa teman ana yang dulunya bersemangat menuntut ilmu. Sayangnya, seiring dengan perjalanan waktu, mereka tidak sabar dalam menuntut ilmu dan berhenti karena merasa kesulitan untuk mengikutinya. Padahal jika mereka mau bersabar sejenak dan meluangkan sedikit kesusahan dalam belajar, mungkin mereka sekarang telah mencapai derajat yang mereka idamkan sebelumnya.

Sejatinya, ilmu memang tidak dapat diperoleh dengan badan yang bersantai-santai dan dalam waktu yang singkat. Kita memohon kepada Allah agar dikaruniai kesabaran dalam menuntut ilmu serta menjadikan ilmu tersebut bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang lain di sekitar kita.

 ومن لم يذق مر التعلم ساعة
 تجرع ذل الجهل طول حياته
 ومن فاته التعليم وقت شبابه
 فكبر عليـه أربعاً لوفـاته 

Siapa yang tidak merasakan pahitnya menuntut ilmu barang sekejap mata, 
Niscaya dia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya, 
Dan barangsiapa yang ketinggalan belajar di masa mudanya, 
Maka ucapkanlah takbir empat kali karena kematiannya.”

Senin, 22 Oktober 2012

Buku Apa Yang Ada Di Atas Tempat Tidurmu ?

Copas -dengan sedikit pengeditan- dari tulisan Ust. Nidlol (Al-Azhar, Mesir) :

“Di atas tempat tidurnya, Dr. Husein Al-Hakami menaruh buku Siyar A'lam Nubala'. Buku itu adalah buku paling populer karya Imam Adz-Dzahabi yang berisi biografi para tokoh-tokoh besar sepanjang sejarah. Ditulis dengan nafas yang lembut dan mendalam, kata para ulama, "Adz-Dzahabiy dzahabiyyul kalaam" (ucapan Imam Dzahaby itu bagai dzahab/emas). Cetakan populernya sekitar 35 jilid. Dicetak juga dalam 18 jilid.

Dr. Husein membaca buku tersebut beberapa menit setiap hari menjelang istirahat malam. Hasilnya? Beliau -bihamdillah- berhasil mengkhatamkan buku ini dalam setahun. Dimulai dari bulan Ramadhan, dan habis tuntas pada bulan Ramadhan tahun berikutnya. Subhanallah!

Pertanyaannya sekarang... BUKU APA YANG ADA DI ATAS TEMPAT TIDURMU...?”

Senin, 15 Oktober 2012

Kembali Kepada Kebenaran Jika Telah Mengetahuinya

Berkata Imam Asy-Syaukani rahimahullah :
“Termasuk salah satu petaka fanatisme yang menghapus keberkahan ilmu adalah ketika seorang penuntut ilmu mengeluarkan satu pendapat atas suatu masalah, sambil berlagak seolah-olah pendapat tersebut keluar dari seorang mufti atau ulama. Kemudian ia menggunakannya untuk berdebat dengan orang lain sehingga pendapat tersebut dikenal luas sebagai pendapatnya. Jika sudah demikian, maka ia akan sulit meninggalkan pendapat itu, meskipun ia tahu pendapatnya salah dan pendapat orang yang berseberangan dengannya justru yang benar.

Faktor penyebab kefanatikan ini adalah hal-hal yang bersifat keduniawian. Ia telah dikuasai syetan dan nafsu egonya, sehingga ia berpikir bahwa mengakui kesalahannya akan mengurangi kredibilitasnya, merendahkan derajatnya, menghancurkan citranya, dan membahayakan kepemimpinannya. Ini adalah khayalan orang yang tidak waras dan tipudaya yang batil. Sebab kembali kepada kebenaran justru akan membuat seseorang dihormati, diagungkan dan dipuji. Semua itu tidak akan didapatkannya jika ia tetap bersikeras pada kebatilan. Bahkan jika ia tetap bersikeras menapak di atas kebatilan, maka yang akan ia peroleh hanyalah pelecehan, peremehan, dan penghinaan.

Jalan kebenaran adalah sesuatu yang terang yang dapat dipahami oleh orang-orang berilmu terutama saat berdiskusi. Ketika seseorang melenceng dari kebenaran lantaran kefanatikan pada satu pendapat yang dipegangnya, maka di kalangan ahli ilmu ia akan terlihat sebagai salah satu dari dua orang :
Pertama : Orang yang fanatik, suka berdebat dan arogan. Jika ia memiliki pemahaman dan pengetahuan yang membuatnya dapat mengetahui kebenaran dan faktor-faktor untuk membedakan kebenaran.
Kedua : Orang bodoh yang rusak pemahaman dan persepsinya. Jika ia tidak memiliki ilmu yang dapat mengantarkannya mengetahui kebatilan yang ia yakini dan ia pertahankan dalam perdebatan. Tidak diragukan lagi, kedua jenis orang tersebut menyimpan segunung cacat.”

(Adab Ath-Thulab wa Muntaha Al-Adab, hal 88-89, dengan perantaraan buku “Fikih Menyikapi Kesalahan Dalam Perspektif Manhaj Salaf”, hal 116-117, karya Dr. Abdurrahman bin Ahmad Alusy).

Selasa, 09 Oktober 2012

Do'a

Ada seorang lelaki yang dulu kerap berdo'a
Agar ia tidak dikenal oleh penduduk dunia,

Ia berharap semoga Allah menjadikannya
Cukuplah dikenal oleh penduduk langit sana,

Sekarang saat dunia datang menghampirinya
Semoga ia masih ingat dengan do'anya yang lama.

=====================================

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَشَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى وَشَرِّ فِتْنَةِ الْفَقْرِ
  
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah neraka dan siksa neraka, dari fitnah kubur dan siksa kubur, dan dari buruknya fitnah kekayaan serta dari buruknya fitnah kemiskinan." (HR. Al-Bukhari).