Apa definisi cinta? Imam Ibnul Qayyim berkata : “Cinta tidak dapat didefinisikan dengan jelas. Bahkan jika didefinisikan tidak menghasilkan sesuatu kecuali menambah ketidakjelasan. Karena definisinya adalah perasaan cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin : 3/9).
Ya, beliau benar. Karena cinta sangat sederhana sehingga tidak perlu didefinisikan dengan kata-kata, dan cukuplah dirasakan dalam hati saja. Ana teringat sebuah puisi dari seorang sastrawan yang mengungkapkan betapa "sederhananya" cinta. Beliau berkata :
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu;
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…”.
Tampilkan postingan dengan label Catatanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatanku. Tampilkan semua postingan
Selasa, 11 Desember 2012
Senin, 13 Agustus 2012
Koleksi Buku Dan Berkah Ilmu
Ana terkadang merasa “minder” melihat koleksi buku ana yang tidak seberapa dibandingkan koleksi teman lainnya. Jujur ana akui, satu-satunya penghalang untuk menambah koleksi buku adalah masalah biaya. Setiap bulan rasanya harus memeras otak bagaimana membagi uang gaji untuk kebutuhan sehari-hari dengan membeli buku :)
Untuk menghibur lara, biasanya ana mengingat-ingat perkataan seorang ulama yang pernah berkata : “Orang yang hanya memiliki sebuah mushaf Al-Qur’an dan mengamalkan isinya lebih baik daripada orang yang memiliki tumpukan buku yang tidak ia amalkan isinya.” Subhanallah, pertama kali ana mendengar perkataan tersebut, rasanya sangat memotivasi sekaligus menghibur gundah di dalam dada.
Lalu ana teringat pula cerita Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lam An-Nubala' ketika menceritakan biografi Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H). Dikisahkan bahwa Imam Al-Baihaqi tidak memiliki kitab Sunan An-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, dan tidak juga memiliki kitab Sunan At-Tirmidzi. Tapi lihatlah, Allah Ta’ala memberkahi ilmunya sehingga karya-karya Imam Al-Baihaqi sampai sekarang tetap dibaca dan diambil manfaatnya oleh generasi kita.
Maka ana cuma ingin berkata : “Jika ada yang mengalahkanmu dalam koleksi buku, maka kalahkan ia dalam mengamalkannya, walau koleksi bukumu tidak seberapa.”
Untuk menghibur lara, biasanya ana mengingat-ingat perkataan seorang ulama yang pernah berkata : “Orang yang hanya memiliki sebuah mushaf Al-Qur’an dan mengamalkan isinya lebih baik daripada orang yang memiliki tumpukan buku yang tidak ia amalkan isinya.” Subhanallah, pertama kali ana mendengar perkataan tersebut, rasanya sangat memotivasi sekaligus menghibur gundah di dalam dada.
Lalu ana teringat pula cerita Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lam An-Nubala' ketika menceritakan biografi Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H). Dikisahkan bahwa Imam Al-Baihaqi tidak memiliki kitab Sunan An-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, dan tidak juga memiliki kitab Sunan At-Tirmidzi. Tapi lihatlah, Allah Ta’ala memberkahi ilmunya sehingga karya-karya Imam Al-Baihaqi sampai sekarang tetap dibaca dan diambil manfaatnya oleh generasi kita.
Maka ana cuma ingin berkata : “Jika ada yang mengalahkanmu dalam koleksi buku, maka kalahkan ia dalam mengamalkannya, walau koleksi bukumu tidak seberapa.”
Minggu, 05 Agustus 2012
Lemari Buku
Beberapa hari yang lalu ketika ana sedang mencari sebuah buku, ana baru sadar bahwa lemari buku ana sudah melengkung. Mungkin karena terlalu berat menahan beban buku yang terlalu banyak. Wah, sepertinya ana memerlukan lemari buku yang baru.
Tapi masalahnya kalaupun jadi membeli lemari buku, mau ditaruh dimana ya lemarinya? Soalnya rumah yang ana tempati ini (rumah orang tua) sepertinya tidak ada lagi ruang kosong untuk sebuah lemari. Wajarlah, soalnya rumah ini tidak didesain memiliki ruangan khusus untuk menyimpan buku alias ruang perpustakaan.
Insya Allah, cita-cita ana kalau nantinya punya rumah sendiri, hal utama yang ana rencanakan adalah membuat ruangan khusus tempat menyimpan buku alias ruang perpustakaan. Kira-kira muat 3-4 lemari buku sudah lumayanlah untuk ukuran penuntut ilmu level beginner seperti ana :)
Kalau lemari bukunya jumlahnya di atas sepuluh lemari itu sih level-level ulama. Seperti yang diceritakan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Ad-Durar Al-Kaminah (2/183) tentang seorang ulama bernama Syafi’ bin Ali Al-Kinani (wafat 730 H). Dikisahkan ketika ulama tersebut wafat, koleksi buku-bukunya tersimpan dalam 20 lemari penuh! Diceritakan pula bahwa beliau hafal dengan semua koleksi buku-bukunya. Jika ada yang ingin meminjam salah satu bukunya, maka ia tahu persis di lemari mana tempat ia menyimpannya. (Berarti beliau tidak perlu lagi membuat katalog buku ^_^ ).
Semoga Allah Ta'ala merahmati para ulama kita atas kecintaan mereka terhadap ilmu, dan menganugerahkan kita semangat yang serupa. Amin.
Tapi masalahnya kalaupun jadi membeli lemari buku, mau ditaruh dimana ya lemarinya? Soalnya rumah yang ana tempati ini (rumah orang tua) sepertinya tidak ada lagi ruang kosong untuk sebuah lemari. Wajarlah, soalnya rumah ini tidak didesain memiliki ruangan khusus untuk menyimpan buku alias ruang perpustakaan.
Insya Allah, cita-cita ana kalau nantinya punya rumah sendiri, hal utama yang ana rencanakan adalah membuat ruangan khusus tempat menyimpan buku alias ruang perpustakaan. Kira-kira muat 3-4 lemari buku sudah lumayanlah untuk ukuran penuntut ilmu level beginner seperti ana :)
Kalau lemari bukunya jumlahnya di atas sepuluh lemari itu sih level-level ulama. Seperti yang diceritakan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Ad-Durar Al-Kaminah (2/183) tentang seorang ulama bernama Syafi’ bin Ali Al-Kinani (wafat 730 H). Dikisahkan ketika ulama tersebut wafat, koleksi buku-bukunya tersimpan dalam 20 lemari penuh! Diceritakan pula bahwa beliau hafal dengan semua koleksi buku-bukunya. Jika ada yang ingin meminjam salah satu bukunya, maka ia tahu persis di lemari mana tempat ia menyimpannya. (Berarti beliau tidak perlu lagi membuat katalog buku ^_^ ).
Semoga Allah Ta'ala merahmati para ulama kita atas kecintaan mereka terhadap ilmu, dan menganugerahkan kita semangat yang serupa. Amin.
Jumat, 24 Februari 2012
Yang Masih Tersisa
Ana selalu terkagum-kagum membaca kisah kesungguhan para ulama dalam menuntut ilmu. Ada yang sanggup berjalan berbulan-bulan di padang pasir untuk mencari hadis. Ada yang tidak makan berhari-hari karena sibuk menuntut ilmu. Ada yang tidak tidur seharian karena sibuk belajar. Merekalah orang-orang seperti dikatakan dalam sebuah syair :
وإذا كانت النفوس كبارا
تعبت في مرادها الأجسام
“Jika jiwa itu besar (cita-citanya),
Maka tubuh akan lelah menuruti keinginannya”
Sedangkan kondisi di zaman ini, hanya kepada Allah kita mengadu atas lemahnya semangat para pencari ilmu. Semoga Allah menjaga yang masih tersisa dan selalu memberkahi ilmu mereka.
وإذا كانت النفوس كبارا
تعبت في مرادها الأجسام
“Jika jiwa itu besar (cita-citanya),
Maka tubuh akan lelah menuruti keinginannya”
Sedangkan kondisi di zaman ini, hanya kepada Allah kita mengadu atas lemahnya semangat para pencari ilmu. Semoga Allah menjaga yang masih tersisa dan selalu memberkahi ilmu mereka.
Senin, 09 Januari 2012
Mengawal Hawa Nafsu
Sudah beberapa kali ana mendengar berita mengenai orang yang katanya "alim dalam ilmu agama" tapi terjerat kasus amoral. Menurut ana, sebab utama kasus semacam itu adalah karena tidak dapat mengawal hawa nafsu. Sejatinya, ilmu agama yang dipelajari seseorang dapat membuatnya mampu mengawal hawa nafsunya. Jika tidak demikian alias hawa nafsu yang lebih ia turuti, maka ilmu yang dipelajari tidak ada arti. Sebagaimana dikatakan ulama :
من لم يصن نفسه لم ينفعه علمه
“Barangsiapa tidak mampu menjaga nafsunya, maka tidak bermanfaat ilmunya ”
Dikatakan pula :
إذا أنت لم تعص الهوى قادك الهوى
إلى بعض ما فيه عليك مقال
“Jika engkau tidak melawan hawa nafsumu,
Ia akan mengantarkanmu kepada sesuatu yang dapat menghancurkanmu”
Kemenangan melawan hawa nafsu akan membuahkan kenikmatan dan kemuliaan. Sedangkan kekalahan dalam melawan hawa nafsu akan mewariskan kehinaan dan hilangnya kehormatan. Maka bersabarlah sejenak mengawal hawa nafsu di dunia, demi kejayaan yang lama di akhirat sana. Dan jadikanlah takwa sebagai sebaik-baik perisai selama hidup di alam fana.
“Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Huud : 49).
من لم يصن نفسه لم ينفعه علمه
“Barangsiapa tidak mampu menjaga nafsunya, maka tidak bermanfaat ilmunya ”
Dikatakan pula :
إذا أنت لم تعص الهوى قادك الهوى
إلى بعض ما فيه عليك مقال
“Jika engkau tidak melawan hawa nafsumu,
Ia akan mengantarkanmu kepada sesuatu yang dapat menghancurkanmu”
Kemenangan melawan hawa nafsu akan membuahkan kenikmatan dan kemuliaan. Sedangkan kekalahan dalam melawan hawa nafsu akan mewariskan kehinaan dan hilangnya kehormatan. Maka bersabarlah sejenak mengawal hawa nafsu di dunia, demi kejayaan yang lama di akhirat sana. Dan jadikanlah takwa sebagai sebaik-baik perisai selama hidup di alam fana.
فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ
“Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Huud : 49).
Kamis, 15 September 2011
Tidak Sempat Menulis Buku ?
Ana membaca di sebuah forum, ada seseorang yang berkata bahwa biasanya orang sibuk yang justru sempat menulis buku. Ana tersenyum dan membenarkan ucapannya, karena demikianlah adanya. Rasanya betapa banyak waktu luang yang tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Selalu saja hati ini berkata : "Nanti saja", "Belum saatnya", "Waktunya masih lama", dan lain sebagainya. Tapi itu hanyalah alasan saja dari orang yang sibuk dengan urusan dunia.
Lihatlah para ulama. Walau sibuk bagaimanapun juga tapi masih sempat menulis karya-karya hebat yang tiada duanya. Bahkan banyak dari mereka yang menulis ketika di penjara. Sudah masyhur adanya bahwa karya-karya Ibnu Taimiyah (wafat 728 H) banyak yang ditulis ketika ia dipenjara. Sampai-sampai ia menulis dengan arang ketika alat tulisnya disita.
Juga Ibnu Rusyd (wafat 595 H) pengarang kitab Bidayatul Mujtahid yang terkenal. Beliau ketika dipenjara sempat menulis kitab yang berjudul Al-Manthiq, padahal ketika itu ia sudah lanjut usia. Begitu pula As-Sarkhasi (wafat 490 H), seorang ulama besar dari madzhab Hanafi yang menyelesaikan kitab fiqihnya sebanyak 30 jilid dari dalam penjara. Hebatnya, ia menulis kitab tersebut dari hafalannya.
Demikianlah keadaan mereka. Lalu kita yang dengan segala fasilitas dan waktu yang ada, malah duduk berleha-leha. Hanya mampu sekedar menulis sepatah dua patah kata, kemudian setelah itu menyangka telah banyak menyumbang untuk agama? Haihata haihata..
Lihatlah para ulama. Walau sibuk bagaimanapun juga tapi masih sempat menulis karya-karya hebat yang tiada duanya. Bahkan banyak dari mereka yang menulis ketika di penjara. Sudah masyhur adanya bahwa karya-karya Ibnu Taimiyah (wafat 728 H) banyak yang ditulis ketika ia dipenjara. Sampai-sampai ia menulis dengan arang ketika alat tulisnya disita.
Juga Ibnu Rusyd (wafat 595 H) pengarang kitab Bidayatul Mujtahid yang terkenal. Beliau ketika dipenjara sempat menulis kitab yang berjudul Al-Manthiq, padahal ketika itu ia sudah lanjut usia. Begitu pula As-Sarkhasi (wafat 490 H), seorang ulama besar dari madzhab Hanafi yang menyelesaikan kitab fiqihnya sebanyak 30 jilid dari dalam penjara. Hebatnya, ia menulis kitab tersebut dari hafalannya.
Demikianlah keadaan mereka. Lalu kita yang dengan segala fasilitas dan waktu yang ada, malah duduk berleha-leha. Hanya mampu sekedar menulis sepatah dua patah kata, kemudian setelah itu menyangka telah banyak menyumbang untuk agama? Haihata haihata..
Kamis, 11 Agustus 2011
Mereka Yang Menyia-Nyiakan Bulan Ramadhan
Memasuki pekan ke-2 bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, ana melihat ramai manusia yang mengisi bulan Ramadhannya dengan perbuatan yang tidak berfaedah. Tidak berfaedah untuk dunia apalagi untuk akhirat. Mereka mengisinya dengan banyak berbicara yang sia-sia, bermalas-malasan, banyak melamun, tidur-tiduran, menonton acara murahan, jalan-jalan tanpa tujuan, dan banyak lagi perkara-perkara yang tiada faedahnya.
Duhai…, jika saja mereka mengisinya dengan membaca Al-Qur’an, tentulah berjuz-juz bacaan telah didapatkan. Jikalau mereka mengisinya dengan banyak berzikir dan berdoa kepada Yang Maha Pemberi Ampunan, tentulah besar harapan dosa mereka akan dimaafkan. Seandainya mereka mengisinya dengan banyak membaca buku serta mendengar kajian, tentulah jalan ke surga akan dimudahkan.
Apakah mereka mengira pasti akan bertemu dengan Ramadhan yang akan datang? Mengapa mereka merasa damai dengan panjang angan-angan? Tidakkah mereka mengambil pelajaran dari ramai orang tidak sampai ke bulan Ramadhan karena telah dijemput kematian?
Simaklah nasihat dari Imam Ibnu Rajab al-Hanbali yang diucapkannya sekitar 600 tahun silam. Beliau mengatakan : “Betapa banyak manusia yang bercita-cita untuk berpuasa di bulan Ramadhan, tetapi cita-citanya tidak sampai karena ia keburu masuk ke dalam gelapnya kuburan. Betapa banyak manusia yang sedang menjalani harinya tapi tak dapat menyelesaikannya, dan betapa ramai orang yang mengira dapat bertemu hari esok tapi tak mendapatkannya. Sungguh, jika kalian melihat kematian dan beratnya perjalanan setelahnya, pasti kalian akan membenci panjang angan-angan dan tidak mau terpedaya karenanya.” (Latha-if Al-Ma’arif : 351).
Ya Allah, berilah taufiq kepadaku dan kepada orang-orang mukmin sekalian, agar selalu dapat memanfaatkan waktu di bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang dapat mendatangkan pada sisi-Mu keridhaan dan ampunan. Hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan..
Duhai…, jika saja mereka mengisinya dengan membaca Al-Qur’an, tentulah berjuz-juz bacaan telah didapatkan. Jikalau mereka mengisinya dengan banyak berzikir dan berdoa kepada Yang Maha Pemberi Ampunan, tentulah besar harapan dosa mereka akan dimaafkan. Seandainya mereka mengisinya dengan banyak membaca buku serta mendengar kajian, tentulah jalan ke surga akan dimudahkan.
Apakah mereka mengira pasti akan bertemu dengan Ramadhan yang akan datang? Mengapa mereka merasa damai dengan panjang angan-angan? Tidakkah mereka mengambil pelajaran dari ramai orang tidak sampai ke bulan Ramadhan karena telah dijemput kematian?
Simaklah nasihat dari Imam Ibnu Rajab al-Hanbali yang diucapkannya sekitar 600 tahun silam. Beliau mengatakan : “Betapa banyak manusia yang bercita-cita untuk berpuasa di bulan Ramadhan, tetapi cita-citanya tidak sampai karena ia keburu masuk ke dalam gelapnya kuburan. Betapa banyak manusia yang sedang menjalani harinya tapi tak dapat menyelesaikannya, dan betapa ramai orang yang mengira dapat bertemu hari esok tapi tak mendapatkannya. Sungguh, jika kalian melihat kematian dan beratnya perjalanan setelahnya, pasti kalian akan membenci panjang angan-angan dan tidak mau terpedaya karenanya.” (Latha-if Al-Ma’arif : 351).
Ya Allah, berilah taufiq kepadaku dan kepada orang-orang mukmin sekalian, agar selalu dapat memanfaatkan waktu di bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang dapat mendatangkan pada sisi-Mu keridhaan dan ampunan. Hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan..
Kamis, 28 Juli 2011
Mencari Mushaf
Kemarin ana pergi ke toko buku mencari mushaf Al-Qur’an. Rencananya mushaf itu akan ana hadiahkan buat seseorang menyambut Ramadhan, Insya Allah. Syarat mushaf yang ana cari adalah ada transliterasi Arab-Latinnya, karena orang yang hendak ana hadiahkan itu kurang lancar membaca Al-Qur’an. Syarat lainnya adalah huruf Arabnya agak besar karena calon penerima hadiah tersebut umurnya sudah 60 tahun ^_^.
Tapi setelah hampir 1 jam ana berdiri memilih-milih belasan model mushaf, tidak ada satupun yang memenuhi kriteria mushaf yang ana sebutkan. Ada mushaf yang memiliki transliterasi Arab-Latin, tapi huruf Arabnya terlalu kecil. Ada pula mushaf yang huruf Arabnya besar, tapi tidak ada transliterasi Arab-Latinnya. Ada yang memenuhi kedua kriteria itu tapi dicetak terpisah dalam 10 jilid, padahal yang ana perlukan adalah yang dicetak dalam 1 jilid saja.
Walaupun ana belum mendapatkan mushaf yang dicari, tetapi ada kegembiraan melihat banyaknya mushaf-mushaf yang telah dicetak dalam berbagai bentuk dan ukuran. Teringat pada zaman sahabat dulu, khalifah ‘Utsman bin Affan bersusah payah membukukan 5 mushaf Al-Qur’an -menurut pendapat yang masyhur menurut Imam As-Suyuthi- kemudian dikirim ke Makkah, Syiria, Basrah dan Kufah dan satu mushaf ditinggal di Madinah.
Jika ada yang bertanya kemana mushaf-mushaf itu sekarang? Maka hanya Allah yang mengetahuinya. Namun, ana pernah membaca dalam kitab Mahabits fi ‘Ulum Al-Qur'an karya Syaikh Manna' al-Qaththan, bahwa Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) dalam kitabnya Fadha’il Al-Qur’an pernah melihat salah satu mushaf peninggalan khalifah ‘Utsman bin Affan tersebut di Masjid Damaskus, Syam.
Ada riwayat yang mengatakan bahwa mushaf di Syam itu dibawa ke Inggris setelah sebelumnya berada di tangan Kaisar Rusia dan disimpan pada perpustakaan Leningrad. Riwayat lain menyatakan bahwa mushaf tersebut musnah ketika terjadi kebakaran di Masjid Damaskus pada tahun 1310 H. Wallahu a’lam.
Kembali kepada topik : Tampaknya hari ini ana harus melanjutkan lagi perburuan mencari mushaf. Semoga Allah -yang maha mengatur semua urusan- memberikan ana kemudahan. Amin.
Tapi setelah hampir 1 jam ana berdiri memilih-milih belasan model mushaf, tidak ada satupun yang memenuhi kriteria mushaf yang ana sebutkan. Ada mushaf yang memiliki transliterasi Arab-Latin, tapi huruf Arabnya terlalu kecil. Ada pula mushaf yang huruf Arabnya besar, tapi tidak ada transliterasi Arab-Latinnya. Ada yang memenuhi kedua kriteria itu tapi dicetak terpisah dalam 10 jilid, padahal yang ana perlukan adalah yang dicetak dalam 1 jilid saja.
Walaupun ana belum mendapatkan mushaf yang dicari, tetapi ada kegembiraan melihat banyaknya mushaf-mushaf yang telah dicetak dalam berbagai bentuk dan ukuran. Teringat pada zaman sahabat dulu, khalifah ‘Utsman bin Affan bersusah payah membukukan 5 mushaf Al-Qur’an -menurut pendapat yang masyhur menurut Imam As-Suyuthi- kemudian dikirim ke Makkah, Syiria, Basrah dan Kufah dan satu mushaf ditinggal di Madinah.
Jika ada yang bertanya kemana mushaf-mushaf itu sekarang? Maka hanya Allah yang mengetahuinya. Namun, ana pernah membaca dalam kitab Mahabits fi ‘Ulum Al-Qur'an karya Syaikh Manna' al-Qaththan, bahwa Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) dalam kitabnya Fadha’il Al-Qur’an pernah melihat salah satu mushaf peninggalan khalifah ‘Utsman bin Affan tersebut di Masjid Damaskus, Syam.
Ada riwayat yang mengatakan bahwa mushaf di Syam itu dibawa ke Inggris setelah sebelumnya berada di tangan Kaisar Rusia dan disimpan pada perpustakaan Leningrad. Riwayat lain menyatakan bahwa mushaf tersebut musnah ketika terjadi kebakaran di Masjid Damaskus pada tahun 1310 H. Wallahu a’lam.
Kembali kepada topik : Tampaknya hari ini ana harus melanjutkan lagi perburuan mencari mushaf. Semoga Allah -yang maha mengatur semua urusan- memberikan ana kemudahan. Amin.
Kamis, 14 Juli 2011
Anak Tetangga
Namanya Dayat. Ia adalah anak tetangga sebelah rumah ana. Usianya baru sekitar 8 tahun dan sekarang belajar di sekolah penghafal (tahfiz) Al-Qur’an.
Ana pernah bertanya kepadanya apa cita-citanya? Ia menjawab : “Saya ingin menjadi Ustadz!”. Ana gembira mendengarnya, karena cita-cita semacam itu jarang kita dengar dari anak-anak pada zaman sekarang.
Inti cerita yang ingin ana sampaikan adalah bekalilah anak sedini mungkin dengan pendidikan agama yang kuat. Asas agama yang kuat pada masa kanak-kanak akan membentuk pondasi keimanan dan pengetahuan yang kokoh, sebagai bekal bagi mereka untuk melangkah pada fase selanjutnya. Bahkan tak jarang, 'bonusnya' adalah mendapatkan kemuliaan di waktu masih muda belia.
Lihatlah Sufyan bin ‘Uyainah (wafat 198 H). Beliau telah hafal Al-Qur’an ketika baru berumur 4 tahun. Ketika umur 7 tahun beliau telah menulis (meriwayatkan) hadits. Dalam kitab Al-Kifayah fi ‘Ilmi ar-Riwayah diceritakan Sufyan bin ‘Uyainah ketika umur 10 tahun sudah duduk bersama para ulama di majelis-majelis ilmu. Sehingga kalau ia masuk sebuah majelis ilmu, maka para hadirin akan berkata: “Luaskan tempat untuk Syaikh kecil!”
Semua itu berkat ilmu yang dipelajari sejak dini. Maka kemuliaan juga cepat mendatangi.
Ana pernah bertanya kepadanya apa cita-citanya? Ia menjawab : “Saya ingin menjadi Ustadz!”. Ana gembira mendengarnya, karena cita-cita semacam itu jarang kita dengar dari anak-anak pada zaman sekarang.
Inti cerita yang ingin ana sampaikan adalah bekalilah anak sedini mungkin dengan pendidikan agama yang kuat. Asas agama yang kuat pada masa kanak-kanak akan membentuk pondasi keimanan dan pengetahuan yang kokoh, sebagai bekal bagi mereka untuk melangkah pada fase selanjutnya. Bahkan tak jarang, 'bonusnya' adalah mendapatkan kemuliaan di waktu masih muda belia.
Lihatlah Sufyan bin ‘Uyainah (wafat 198 H). Beliau telah hafal Al-Qur’an ketika baru berumur 4 tahun. Ketika umur 7 tahun beliau telah menulis (meriwayatkan) hadits. Dalam kitab Al-Kifayah fi ‘Ilmi ar-Riwayah diceritakan Sufyan bin ‘Uyainah ketika umur 10 tahun sudah duduk bersama para ulama di majelis-majelis ilmu. Sehingga kalau ia masuk sebuah majelis ilmu, maka para hadirin akan berkata: “Luaskan tempat untuk Syaikh kecil!”
Semua itu berkat ilmu yang dipelajari sejak dini. Maka kemuliaan juga cepat mendatangi.
Selasa, 05 Juli 2011
Sibuk
Beberapa waktu belakangan ini kegiatan membaca dan menulis ana agak 'terganggu'. Terganggu karena ana disibukkan dengan urusan dunia dan keluarga. Rasanya agak 'berduka' melihat tumpukan buku yang tidak sempat dibaca, dan sedih memikirkan sederetan ide yang terlintas tapi tidak dapat diwujudkan lewat tulisan.
Mungkin kendalanya ana belum menemukan pengaturan masa yang ideal antara ilmu dan urusan dunia. Atau mungkin juga karena ana kurang berani mengorbankan sedikit urusan dunia.
Dulu Abu Ahmad Nashr bin Ahmad as-Samarqandi berkata : “Ilmu tidak dapat didapatkan kecuali oleh orang yang mengosongkan kedainya, meruntuhkan kebunnya, meninggalkan teman-temannya, dan ketika keluarganya meninggal ia tidak bisa menyaksikan jenazahnya”. Ibnu Jama’ah mengomentari ucapan itu dengan berkata : “Semua ini sekalipun merupakan ungkapan mubalaghah (berlebihan) maksudnya adalah bahwa penuntut ilmu harus menggabungkan hati dan menyatukan pikiran.” (Tadzkirah as-Sami’ wal Mutakallim : 71).
Dulu Abu Ahmad Nashr bin Ahmad as-Samarqandi berkata : “Ilmu tidak dapat didapatkan kecuali oleh orang yang mengosongkan kedainya, meruntuhkan kebunnya, meninggalkan teman-temannya, dan ketika keluarganya meninggal ia tidak bisa menyaksikan jenazahnya”. Ibnu Jama’ah mengomentari ucapan itu dengan berkata : “Semua ini sekalipun merupakan ungkapan mubalaghah (berlebihan) maksudnya adalah bahwa penuntut ilmu harus menggabungkan hati dan menyatukan pikiran.” (Tadzkirah as-Sami’ wal Mutakallim : 71).
Wallahul Musta’an.
Rabu, 18 Mei 2011
Si Bapak Yang Selalu Menangis Ketika Sujud
Ada kelakuan ‘unik’ dari seorang bapak di masjid tempat ana menunaikan sholat. Bapak itu berumur sekitar 40-50 tahun. Ana jarang berbicara dengannya. Tapi ana selalu bertemu dengannya di masjid ketika waktu-waktu sholat. Kelakuan ‘unik’ yang ana maksudkan adalah sang bapak selalu menangis ketika sujud, dan itu selalu ia lakukan di waktu sholat wajib maupun sholat sunnah. Ana mengetahuinya karena ana sering berada di sampingnya ketika sholat.
Awalnya ana sempat heran dan agak terganggu, karena suara tangisannya lumayan keras sehingga dapat didengar oleh orang di sampingnya. Tapi lama-kelamaan ana pun terbiasa dan berusaha untuk berbaik sangka. Apalagi setelah mendengar kisah serupa dari seorang tabi’in bernama Makhul (wafat 118 H). Makhul bercerita : “Aku pernah melihat seseorang mengerjakan sholat. Setiap kali ruku’ dan sujud ia selalu menangis. Lalu aku (berburuk sangka) menuduh ia menangis karena riya’. Namun akibatnya, justru aku tidak bisa menangis (dalam sholat) selama setahun.” (Hilyatul Auliya' : 5/184).
Moral of the story adalah : Jangan terburu-buru menuduh seseorang berbuat riya’ ^_^.
Awalnya ana sempat heran dan agak terganggu, karena suara tangisannya lumayan keras sehingga dapat didengar oleh orang di sampingnya. Tapi lama-kelamaan ana pun terbiasa dan berusaha untuk berbaik sangka. Apalagi setelah mendengar kisah serupa dari seorang tabi’in bernama Makhul (wafat 118 H). Makhul bercerita : “Aku pernah melihat seseorang mengerjakan sholat. Setiap kali ruku’ dan sujud ia selalu menangis. Lalu aku (berburuk sangka) menuduh ia menangis karena riya’. Namun akibatnya, justru aku tidak bisa menangis (dalam sholat) selama setahun.” (Hilyatul Auliya' : 5/184).
Moral of the story adalah : Jangan terburu-buru menuduh seseorang berbuat riya’ ^_^.
Rabu, 06 April 2011
Tulisan Tangan
Rasanya sejak ana mengenal komputer, ana jadi jarang menulis dengan tangan. Alasannya tentu karena lebih mudah, cepat, menghemat kertas dan tinta. Oleh karena jarang menulis dengan tangan, ana lihat tulisan tangan ana sekarang bak tulisan dokter yang sulit dibaca. Walau masih bisa dibaca dan belum mencapai derajat manuskrip :-) .
Terbayang bagaimana ulama zaman dulu tanpa peralatan elektronik sanggup menulis kitab sebanyak puluhan bahkan ratusan jilid, dengan tulisan yang rapi dan bagus pula. Bahkan beberapa di antara mereka menulis kitab yang sama berulang-ulang. Seperti Al-Hafidz Al-Mizzi (wafat 742 H). Guru sekaligus mertua dari Ibnu Katsir tersebut dalam beberapa literatur seperti Thabaqat Syafi’iyah Al-Kubra (10/417) diceritakan bahwa Al-Mizzi menyalin kitabnya Tuhfah Al-Asyraf dan Tahzib Al-Kamal lebih dari satu kali.
Padahal kitab Tahdzib Al-Kamal setelah dicetak sekarang terdiri dari 35 jilid (terbitan Muassasah Ar-Risalah, Beirut, cetakan ke-2/1403 H). Nah, bayangkan bagaimana kesungguhan beliau sanggup menyalin kitab tersebut berulang kali. Ada yang mengatakan sebab Al-Hafidz Al-Mizzi menyalin kitab-kitabnya lebih dari satu kali adalah karena kemiskinan yang menimpanya. Sedangkan beliau seorang yang menjaga diri dari meminta-minta kepada manusia. Maka untuk menghidupi kehidupannya beliau menyalin ulang kitab-kitabnya dan menjualnya. Wallahu a’lam.
Sungguh kisah-kisah seperti itu, hanya kita dengar ceritanya dari lembaran-lembaran kitab di masa lalu. Sedangkan di zaman ini jangankan untuk menulis berjilid-jilid buku, untuk membaca buku berjilid-jilid pun rasanya banyak yang tak mampu.
Terbayang bagaimana ulama zaman dulu tanpa peralatan elektronik sanggup menulis kitab sebanyak puluhan bahkan ratusan jilid, dengan tulisan yang rapi dan bagus pula. Bahkan beberapa di antara mereka menulis kitab yang sama berulang-ulang. Seperti Al-Hafidz Al-Mizzi (wafat 742 H). Guru sekaligus mertua dari Ibnu Katsir tersebut dalam beberapa literatur seperti Thabaqat Syafi’iyah Al-Kubra (10/417) diceritakan bahwa Al-Mizzi menyalin kitabnya Tuhfah Al-Asyraf dan Tahzib Al-Kamal lebih dari satu kali.
Padahal kitab Tahdzib Al-Kamal setelah dicetak sekarang terdiri dari 35 jilid (terbitan Muassasah Ar-Risalah, Beirut, cetakan ke-2/1403 H). Nah, bayangkan bagaimana kesungguhan beliau sanggup menyalin kitab tersebut berulang kali. Ada yang mengatakan sebab Al-Hafidz Al-Mizzi menyalin kitab-kitabnya lebih dari satu kali adalah karena kemiskinan yang menimpanya. Sedangkan beliau seorang yang menjaga diri dari meminta-minta kepada manusia. Maka untuk menghidupi kehidupannya beliau menyalin ulang kitab-kitabnya dan menjualnya. Wallahu a’lam.
Sungguh kisah-kisah seperti itu, hanya kita dengar ceritanya dari lembaran-lembaran kitab di masa lalu. Sedangkan di zaman ini jangankan untuk menulis berjilid-jilid buku, untuk membaca buku berjilid-jilid pun rasanya banyak yang tak mampu.
Selasa, 29 Maret 2011
Sepenggal Perkataan Yang Menyentuh Jiwa
Umar bin Abdul Aziz pernah berkhutbah menasihati manusia -dan itu adalah khutbah terakhirnya sebelum beliau wafat-, beliau mengingatkan tentang dunia yang fana, akhirat yang kekal, dan kematian yang dapat datang tiba-tiba. Lalu di akhir khutbahnya beliau berkata :
“Aku mengucapkan kata-kata ini kepada kalian dan tidak ada seorangpun yang aku ketahui lebih banyak dosanya dibanding diriku. Hanya saja aku selalu memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya.”
Setelah itu beliau menangis tersedu-sedu kemudian turun dari mimbar. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya. (Latho-if al-Ma’arif, hal. 351, Ibnu Rajab al-Hanbali).
(Ana mengenal seorang lelaki yang juga menangis tersedu-sedu setiap teringat perkataan Umar bin Abdul Aziz itu. Semoga Allah Ta'ala selalu menjaganya).
“Aku mengucapkan kata-kata ini kepada kalian dan tidak ada seorangpun yang aku ketahui lebih banyak dosanya dibanding diriku. Hanya saja aku selalu memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya.”
Setelah itu beliau menangis tersedu-sedu kemudian turun dari mimbar. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya. (Latho-if al-Ma’arif, hal. 351, Ibnu Rajab al-Hanbali).
(Ana mengenal seorang lelaki yang juga menangis tersedu-sedu setiap teringat perkataan Umar bin Abdul Aziz itu. Semoga Allah Ta'ala selalu menjaganya).
Minggu, 20 Maret 2011
Sebaik-baik Lauk Adalah Cuka?
Mungkin ada yang mengira bahwa cuka adalah makanan terbaik berdasarkan hadits ini :
“Dari Jabir bin Abdullah menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meminta lauk kepada istrinya-istrinya, lalu mereka menjawab : "Kita tidak punya apa-apa selain cuka." Beliau menyuruh diambilkan (cuka itu), lalu beliau makan dengan cuka tersebut sambil bersabda : 'Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka'.” (HR. Muslim).
Benarkah sebaik-baik lauk adalah cuka?
Tentu saja tidak, karena di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ada makanan lain yang lebih enak, seperti daging, roti, keju, dsb. Tapi mengapa Nabi mengatakan sebaik-baik lauk adalah cuka?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan demikian untuk menjaga perasaan istrinya. Perhatikan kembali hadits tersebut. Para istri beliau sebelumnya berkata : “Kita tidak punya apa-apa selain cuka”. Maka Rasulullah berusaha menjaga perasaan mereka dengan memuji makanan yang ada, walaupun yang tersedia hanyalah cuka!
Faedah dari hadits ini adalah disunnahkan bagi para suami untuk memuji makanan yang disediakan sang istri, menghargai masakannya, serta tidak mencela makanan yang ada walaupun sebenarnya sang suami kurang menyukai makanan tersebut ^_^.
P/s : Terimakasih kepada istri ana yang telah mengingatkan faedah hadits ini :-)
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَ أَهْلَهُ الْأُدُمَ فَقَالُوا مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلٌّ فَدَعَا بِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ بِهِ وَيَقُولُ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ
“Dari Jabir bin Abdullah menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meminta lauk kepada istrinya-istrinya, lalu mereka menjawab : "Kita tidak punya apa-apa selain cuka." Beliau menyuruh diambilkan (cuka itu), lalu beliau makan dengan cuka tersebut sambil bersabda : 'Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka'.” (HR. Muslim).
Benarkah sebaik-baik lauk adalah cuka?
Tentu saja tidak, karena di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ada makanan lain yang lebih enak, seperti daging, roti, keju, dsb. Tapi mengapa Nabi mengatakan sebaik-baik lauk adalah cuka?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan demikian untuk menjaga perasaan istrinya. Perhatikan kembali hadits tersebut. Para istri beliau sebelumnya berkata : “Kita tidak punya apa-apa selain cuka”. Maka Rasulullah berusaha menjaga perasaan mereka dengan memuji makanan yang ada, walaupun yang tersedia hanyalah cuka!
Faedah dari hadits ini adalah disunnahkan bagi para suami untuk memuji makanan yang disediakan sang istri, menghargai masakannya, serta tidak mencela makanan yang ada walaupun sebenarnya sang suami kurang menyukai makanan tersebut ^_^.
P/s : Terimakasih kepada istri ana yang telah mengingatkan faedah hadits ini :-)
Kamis, 20 Januari 2011
Mengapa Blog Ini Judulnya Faidah Ilmu?
Mengapa blog ini ana beri judul Faidah Ilmu? Itu karena kegemaran ana mengumpulkan faidah-faidah yang ana dapatkan selama menuntut ilmu, baik dari guru, teman maupun buku. Yang ana maksudkan dengan faidah (fawaid) adalah mutiara ilmu dan hal-hal penting yang diperoleh dari pelbagai cabang ilmu seperti tafsir, hadits, fiqih, akhlak, bahasa, syair, sejarah, kisah, fatwa dan lain sebagainya.
Kegiatan mengumpulkan faidah bukanlah hal yang baru. Para ulama sejak dulu membukukan faidah-faidah ilmiyah yang mereka dapatkan. Kitab-kitab khusus yang memuat faidah-faidah ilmiyah seperti kitab :
- Al-Funun karya Ibnu 'Aqil yang dikatakan berjumlah 800 jilid.
- Qaid al-Awabid karya Ad-Daghuli sebanyak 400 jilid.
- Majma’ al-Fawaid dan Manba’ al-Faraid serta at-Tadzkirah karya al-Maqrizi sebanyak 100 jilid (ada juga yang mengatakan 80 jilid).
- At-Tadzkirah karya Al-Kindi sebanyak 50 jilid.
- Tadzkirah as-Suyuthi dalam 50 jilid.
- Tadzkirah ash-Shafadi jumlahnya 30 jilid.
- ‘Uyun al-Awabid karya Ibnu an-Najjar dalam 6 jilid.
- Shaid al-Khatir karya Ibnul Jauzi.
- Al-Fawaid al-‘Awaniyyah karya Al-Wazir Ibnu Hubairah.
- Bada’i al-Fawaid dan Al-Fawaid karya Ibnul Qayyim.
Sedangkan karya ulama kontemporer seperti :
- Al-Muntaqah min Fawaidil Fawaid oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.
- Al-Muntaqah min Fathil Bari oleh Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad.
- Al-Fawaidul Muntaqah min Syarh Shahih Muslim oleh Sulthan bin ‘Abdillah al-‘Umari.
Para ulama menasihatkan jika mendapatkan faidah segeralah untuk dicatat. Karena faidah ibarat mutiara yang mudah hilang dan terlupa. Sebagaimana yang dikatakan Imam an-Nawawi dalam Majmu’ (1/39) : “Janganlah seseorang meremehkan suatu ilmu (faidah) yang dia lihat atau dia dengar. Segeralah mencatatnya atau menelaahnya.”
Ibnul Abbar dalam Mu’jam Ashhab ash-Shadafi ketika menceritakan biografi Abul Qasim Ibnu Warad at-Tamimi (wafat 540 H), berkata : “Setiap buku yang ditunjukkan kepadanya maka pasti akan dibacanya dari awal sampai akhir. Jika dia mendapatkan suatu faidah, dia segera mencatatnya hingga menjadi sebuah pembahasan baru.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar Asqalani dalam kitab Ad-Durar al-Kaminah (3/397) ketika menceritakan biografi Az-Zarkasyi -penulis kitab Al-Bahr al-Muhith yang terkenal- menceritakan bahwa Az-Zarkasyi sering bolak-balik ke tempat penjual buku untuk menelaah buku-buku. Jika dia mendapatkan suatu faidah yang mengagumkan maka dia akan mencatatnya dan setelah pulang dia akan membahasnya ke dalam tulisannya.
Diantara para ulama bahkan ada yang menyesal karena tidak mencatat faidah yang mereka dapatkan. Murid Ibnu Hajar Asqalani yakni As-Sakhawi dalam kitabnya Al-Jawahir wa ad-Durar (2/611) menceritakan bahwa gurunya pernah menyesal tidak mencatat faidah yang beliau temukan dalam sebuah ayat Al-Qur’an.
Demikianlah keadaan para ulama kita yang mulia -semoga Allah merahmati mereka semua-. Semoga dengan mengetahui kisahnya dapat memotivasi jiwa-jiwa penuntut ilmu yang semakin melemah, menghidupkan semangat-semangat yang hampir mati, dan membakar gairah-gairah menelaah yang hampir padam, disebabkan banyaknya fitnah syahwat dan syubhat di zaman ini. Hanya kepada Allah kita mengadu dan memohon pertolongan.
Kegiatan mengumpulkan faidah bukanlah hal yang baru. Para ulama sejak dulu membukukan faidah-faidah ilmiyah yang mereka dapatkan. Kitab-kitab khusus yang memuat faidah-faidah ilmiyah seperti kitab :
- Al-Funun karya Ibnu 'Aqil yang dikatakan berjumlah 800 jilid.
- Qaid al-Awabid karya Ad-Daghuli sebanyak 400 jilid.
- Majma’ al-Fawaid dan Manba’ al-Faraid serta at-Tadzkirah karya al-Maqrizi sebanyak 100 jilid (ada juga yang mengatakan 80 jilid).
- At-Tadzkirah karya Al-Kindi sebanyak 50 jilid.
- Tadzkirah as-Suyuthi dalam 50 jilid.
- Tadzkirah ash-Shafadi jumlahnya 30 jilid.
- ‘Uyun al-Awabid karya Ibnu an-Najjar dalam 6 jilid.
- Shaid al-Khatir karya Ibnul Jauzi.
- Al-Fawaid al-‘Awaniyyah karya Al-Wazir Ibnu Hubairah.
- Bada’i al-Fawaid dan Al-Fawaid karya Ibnul Qayyim.
Sedangkan karya ulama kontemporer seperti :
- Al-Muntaqah min Fawaidil Fawaid oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.
- Al-Muntaqah min Fathil Bari oleh Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad.
- Al-Fawaidul Muntaqah min Syarh Shahih Muslim oleh Sulthan bin ‘Abdillah al-‘Umari.
Para ulama menasihatkan jika mendapatkan faidah segeralah untuk dicatat. Karena faidah ibarat mutiara yang mudah hilang dan terlupa. Sebagaimana yang dikatakan Imam an-Nawawi dalam Majmu’ (1/39) : “Janganlah seseorang meremehkan suatu ilmu (faidah) yang dia lihat atau dia dengar. Segeralah mencatatnya atau menelaahnya.”
Ibnul Abbar dalam Mu’jam Ashhab ash-Shadafi ketika menceritakan biografi Abul Qasim Ibnu Warad at-Tamimi (wafat 540 H), berkata : “Setiap buku yang ditunjukkan kepadanya maka pasti akan dibacanya dari awal sampai akhir. Jika dia mendapatkan suatu faidah, dia segera mencatatnya hingga menjadi sebuah pembahasan baru.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar Asqalani dalam kitab Ad-Durar al-Kaminah (3/397) ketika menceritakan biografi Az-Zarkasyi -penulis kitab Al-Bahr al-Muhith yang terkenal- menceritakan bahwa Az-Zarkasyi sering bolak-balik ke tempat penjual buku untuk menelaah buku-buku. Jika dia mendapatkan suatu faidah yang mengagumkan maka dia akan mencatatnya dan setelah pulang dia akan membahasnya ke dalam tulisannya.
Diantara para ulama bahkan ada yang menyesal karena tidak mencatat faidah yang mereka dapatkan. Murid Ibnu Hajar Asqalani yakni As-Sakhawi dalam kitabnya Al-Jawahir wa ad-Durar (2/611) menceritakan bahwa gurunya pernah menyesal tidak mencatat faidah yang beliau temukan dalam sebuah ayat Al-Qur’an.
Demikianlah keadaan para ulama kita yang mulia -semoga Allah merahmati mereka semua-. Semoga dengan mengetahui kisahnya dapat memotivasi jiwa-jiwa penuntut ilmu yang semakin melemah, menghidupkan semangat-semangat yang hampir mati, dan membakar gairah-gairah menelaah yang hampir padam, disebabkan banyaknya fitnah syahwat dan syubhat di zaman ini. Hanya kepada Allah kita mengadu dan memohon pertolongan.
Senin, 17 Januari 2011
Tidak Ada Kekuasaan Abadi Di Dunia Ini
Beberapa hari terakhir ini, peristiwa di Tunisia menarik perhatian seluruh warga dunia. Seluruh media memberitakan tentang tumbangnya penguasa negeri itu yang telah berkuasa selama 23 tahun (mengingatkan ana dengan kejadian serupa di Indonesia tiga belas tahun yang lalu). Dari peristiwa tersebut, semoga para pemimpin-pemimpin negara lainnya dapat mengambil pelajaran bahwa tidak ada kekuasaan yang abadi di dunia. Jika Allah berkehendak, maka jatuhlah pemimpin suatu negara dari jalan yang tidak mereka sangka-sangka, dan pergiliran kekuasaan antar manusia merupakan suatu kemestian adanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)”. (QS. Ali Imran : 140).
Sungguh indah seorang penyair yang berkata :
لكل شىء إذا ماتم نقصان
فلا يغر بطيب العــيــش إنسانُ
هي الأمور كما شاهدتها دول
من سرهُ زَمنٌ ساءته أزمانُ
وهذه الدار لا تُبقي على أحد
ولا يدوم على حال لها شانُ
“Segala sesuatu akan turun jika telah sampai puncaknya,
Oleh karena itu janganlah manusia tertipu dengan keindahan dunia;
Hal ini sebagaimana yang telah disaksikan oleh setiap bangsa,
Barangsiapa yang hari ini gembira hari-hari berikutnya dia akan menderita;
Dunia ini tidak pernah kekal abadi bagi semua orang,
Dan manusia tidak akan tetap dalam satu keadaan.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)”. (QS. Ali Imran : 140).
Sungguh indah seorang penyair yang berkata :
لكل شىء إذا ماتم نقصان
فلا يغر بطيب العــيــش إنسانُ
هي الأمور كما شاهدتها دول
من سرهُ زَمنٌ ساءته أزمانُ
وهذه الدار لا تُبقي على أحد
ولا يدوم على حال لها شانُ
“Segala sesuatu akan turun jika telah sampai puncaknya,
Oleh karena itu janganlah manusia tertipu dengan keindahan dunia;
Hal ini sebagaimana yang telah disaksikan oleh setiap bangsa,
Barangsiapa yang hari ini gembira hari-hari berikutnya dia akan menderita;
Dunia ini tidak pernah kekal abadi bagi semua orang,
Dan manusia tidak akan tetap dalam satu keadaan.”
Rabu, 12 Januari 2011
Keledai Yang Membawa Banyak Kitab
Seorang ulama pernah berkata bahwa seseorang yang hanya memiliki sebuah mushaf Al-Qur’an yang telah ia hayati dan amalkan isinya, lebih baik ketimbang orang yang memiliki ribuan jilid buku tapi tidak mengamalkannya. Orang yang tidak mengamalkan ilmunya bak orang Yahudi yang diceritakan dalam Al-Qur’an : “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.” (QS. Al-Jumu’ah : 5).
Lama ana memikirkan perkataan ulama tersebut, dan memang benar adanya. Milikilah buku beribu-ribu banyaknya, hafalkanlah pelbagai dalil-dalil agama, sebarkanlah ceramah dan tulisan dimana-mana. Semua itu sia-sia belaka jika amalan tidak tampak di mata.
Lama ana memikirkan perkataan ulama tersebut, dan memang benar adanya. Milikilah buku beribu-ribu banyaknya, hafalkanlah pelbagai dalil-dalil agama, sebarkanlah ceramah dan tulisan dimana-mana. Semua itu sia-sia belaka jika amalan tidak tampak di mata.
Senin, 27 Desember 2010
Tergesa-gesa Adalah Tabiat Manusia
Selama ana mengikuti diskusi pada sebuah forum di internet, ada hal menarik yang ingin ana ceritakan, yakni sebenarnya banyak perbincangan dalam forum tersebut yang ana ingin sekali mengikutinya dan komentar telah ana siapkan. Tapi setelah dipikir berulang-ulang ana memutuskan tidak jadi untuk mengirimnya. Bahkan posting yang telah dikirim ada beberapa yang di-delete dan di-edit karena setelah dibaca kembali rasanya ada kesalahan dan tidak pas dengan keadaan.
Pelajaran dari kisah tersebut adalah : Tergesa-gesa merupakan tabiat manusia, dan bersabar menahan apa yang ada di kepala membuahkan kelegaan yang tak terhingga. Demikianlah sifat manusia seperti ana yang terkadang sering tergesa-gesa. Tidak hanya dalam tulisan, rasanya juga dalam ucapan dan tindakan kerap dilakukan dengan ketergesaan, sehingga tak jarang menimbulkan penyesalan.
Seorang penyair mengatakan :
وزن اكلام إذا نطقت فإنما
يبدي العقول أو العيوب المنطق
“Pikirkanlah ucapanmu jika kamu berbicara, karena sesungguhnya
ucapan itu dapat mengungkapkan pemikiran atau aib manusia.”
Imam Ibnu Hibban berkata : “Orang yang bersikap hati-hati tidak akan didahului, tidak seperti orang yang tergesa-gesa yang boleh jadi dapat disusul. Orang yang diam tidak akan menyesal, tidak seperti orang yang berbicara yang boleh jadi tidak selamat. Orang yang tergesa-gesa akan berbicara sebelum mengetahui, menjawab sebelum memahami, memuji sebelum menguji, menghina setelah memuji, bertekad sebelum memikirkan, dan melaksanakan sebelum meneliti. Orang yang tergesa-gesa akan diiringi dengan penyesalan dan dijauhi keselamatan.”
Ibnu Hibban juga berkata : “Ada yang mengatakan bahwa orang yang tergesa-gesa tidak akan dipuji, orang yang pemarah tidak akan disenangi, orang yang sombong tidak akan dicintai, orang yang dermawan tidak akan didengki, orang yang kikir tidak akan menjadi kaya, dan orang yang tidak penyabar maka tidak ada yang mau menjadi kawannya.”
(Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala' : 216-217, Ibnu Hibban).
Pelajaran dari kisah tersebut adalah : Tergesa-gesa merupakan tabiat manusia, dan bersabar menahan apa yang ada di kepala membuahkan kelegaan yang tak terhingga. Demikianlah sifat manusia seperti ana yang terkadang sering tergesa-gesa. Tidak hanya dalam tulisan, rasanya juga dalam ucapan dan tindakan kerap dilakukan dengan ketergesaan, sehingga tak jarang menimbulkan penyesalan.
Seorang penyair mengatakan :
وزن اكلام إذا نطقت فإنما
يبدي العقول أو العيوب المنطق
“Pikirkanlah ucapanmu jika kamu berbicara, karena sesungguhnya
ucapan itu dapat mengungkapkan pemikiran atau aib manusia.”
Imam Ibnu Hibban berkata : “Orang yang bersikap hati-hati tidak akan didahului, tidak seperti orang yang tergesa-gesa yang boleh jadi dapat disusul. Orang yang diam tidak akan menyesal, tidak seperti orang yang berbicara yang boleh jadi tidak selamat. Orang yang tergesa-gesa akan berbicara sebelum mengetahui, menjawab sebelum memahami, memuji sebelum menguji, menghina setelah memuji, bertekad sebelum memikirkan, dan melaksanakan sebelum meneliti. Orang yang tergesa-gesa akan diiringi dengan penyesalan dan dijauhi keselamatan.”
Ibnu Hibban juga berkata : “Ada yang mengatakan bahwa orang yang tergesa-gesa tidak akan dipuji, orang yang pemarah tidak akan disenangi, orang yang sombong tidak akan dicintai, orang yang dermawan tidak akan didengki, orang yang kikir tidak akan menjadi kaya, dan orang yang tidak penyabar maka tidak ada yang mau menjadi kawannya.”
(Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala' : 216-217, Ibnu Hibban).
Selasa, 23 November 2010
Sulit Konsentrasi
Beberapa waktu belakangan ini ana rasanya sulit untuk konsentrasi. Konsentrasi yang ana maksudkan adalah menumpukan perhatian pada suatu perkara terutama pada hafalan dan bacaan.
Hafalan yang dulu mudah dilakukan sekarang rasanya susah sekali untuk melekat dalam ingatan. Sedangkan dalam hal bacaan, ana rasakan susah untuk mencerna subjek-subjek bacaan yang ‘berat’, sehingga terkadang perlu dilakukan pembacaan berulang-ulang. Hal tersebut merupakan suatu hal yang sebelumnya jarang dilakukan.
Setelah ana introspeksi, mungkin hal ini karena bercabangnya pikiran, serta banyaknya kegiatan keduniaan yang menyita waktu dan perhatian. Sungguh benar apa yang diwasiatkan ulama bahwa antara dunia dan menuntut ilmu agama tidaklah dapat disatukan.
Para ulama telah mengingatkan : “Seorang penuntut ilmu harus meninggalkan perkara-perkara yang menyibukkan. Karena jika pikirannya terbagi-bagi maka ia tidak dapat konsentrasi dalam menyelami dan mengetahui hakikat yang dipelajari. Dulu para salaf mengutamakan ilmu dibanding perkara lainnya. Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad tidak menikah kecuali setelah berumur 40 tahun (agar ia dapat berkonsentrasi menuntut ilmu). Seorang salaf lainnya yakni Abu Bakar bin Al-Anbari pernah dihadiahkan seorang hamba sahaya wanita. Ketika hamba sahaya itu masuk menemuinya, maka hilanglah dari pikirannya beberapa permasalahan yang sedang dibahasnya. Maka Abu Bakar bin Al-Anbari mengembalikan hamba sahaya tersebut agar ia dapat berkonsentrasi kembali dalam bidang keilmuan.” (Mukhtasar Minhajul Qashidin : 14, Ibnu Qudamah).
Imam Ibnu Jama’ah berkata : “Semestinya seorang penuntut ilmu berusaha memutus kegiatan-kegiatan yang dapat menyibukkannya dan menghalanginya dari menuntut ilmu. Sebab jika pikirannya bercabang, niscaya ia tidak akan mampu menyingkap hakikat ilmu dan perkara-perkara yang rumit. Sesungguhnya Allah tidak menjadikan pada diri seseorang dua pikiran.” (Tadzkiratus Sami' wal Mutakallim fi Adabil 'Alim wal Muta'allim : 70-71, Ibnu Jama’ah).
Demikianlah yang diwasiatkan para ulama. Sekarang tinggal ana yang harus menyeleksi kegiatan mana yang harus di-turn off untuk sementara, agar dapat mengembalikan konsentrasi seperti sedia kala.
Allahul Musta’an.
Hafalan yang dulu mudah dilakukan sekarang rasanya susah sekali untuk melekat dalam ingatan. Sedangkan dalam hal bacaan, ana rasakan susah untuk mencerna subjek-subjek bacaan yang ‘berat’, sehingga terkadang perlu dilakukan pembacaan berulang-ulang. Hal tersebut merupakan suatu hal yang sebelumnya jarang dilakukan.
Setelah ana introspeksi, mungkin hal ini karena bercabangnya pikiran, serta banyaknya kegiatan keduniaan yang menyita waktu dan perhatian. Sungguh benar apa yang diwasiatkan ulama bahwa antara dunia dan menuntut ilmu agama tidaklah dapat disatukan.
Para ulama telah mengingatkan : “Seorang penuntut ilmu harus meninggalkan perkara-perkara yang menyibukkan. Karena jika pikirannya terbagi-bagi maka ia tidak dapat konsentrasi dalam menyelami dan mengetahui hakikat yang dipelajari. Dulu para salaf mengutamakan ilmu dibanding perkara lainnya. Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad tidak menikah kecuali setelah berumur 40 tahun (agar ia dapat berkonsentrasi menuntut ilmu). Seorang salaf lainnya yakni Abu Bakar bin Al-Anbari pernah dihadiahkan seorang hamba sahaya wanita. Ketika hamba sahaya itu masuk menemuinya, maka hilanglah dari pikirannya beberapa permasalahan yang sedang dibahasnya. Maka Abu Bakar bin Al-Anbari mengembalikan hamba sahaya tersebut agar ia dapat berkonsentrasi kembali dalam bidang keilmuan.” (Mukhtasar Minhajul Qashidin : 14, Ibnu Qudamah).
Imam Ibnu Jama’ah berkata : “Semestinya seorang penuntut ilmu berusaha memutus kegiatan-kegiatan yang dapat menyibukkannya dan menghalanginya dari menuntut ilmu. Sebab jika pikirannya bercabang, niscaya ia tidak akan mampu menyingkap hakikat ilmu dan perkara-perkara yang rumit. Sesungguhnya Allah tidak menjadikan pada diri seseorang dua pikiran.” (Tadzkiratus Sami' wal Mutakallim fi Adabil 'Alim wal Muta'allim : 70-71, Ibnu Jama’ah).
Demikianlah yang diwasiatkan para ulama. Sekarang tinggal ana yang harus menyeleksi kegiatan mana yang harus di-turn off untuk sementara, agar dapat mengembalikan konsentrasi seperti sedia kala.
Allahul Musta’an.
Minggu, 17 Oktober 2010
Haji Yang Mabrur
Menjelang musim haji ini sering kita dengar ucapan kepada calon jamaah haji : “Semoga menjadi haji yang mabrur”.
Apakah definisi haji mabrur itu? Imam Ibnu Abdil Barr berkata : “Haji mabrur yaitu haji yang tiada riya’ dan sum’ah di dalamnya, tiada kefasikan dan (berangkat haji) dari harta yang halal”. (At-Tamhid : 22/39, Ibnu Abdil Barr; Masa’il Yaktsuru Su’al ‘Ahna : 12-13, Abdullah bin Shalih al-Fauzan).
Maksud tiada riya’ dan sum’ah adalah mengerjakan haji ikhlas untuk Allah semata dan tidak berhasrat untuk dilihat dan didengar manusia dalam amal perbuatannya.
Tapi lihatlah fenomena yang terjadi di masyarakat kita sekarang ini. Rasanya ramai calon jamaah haji yang jauh-jauh hari sebelumnya (bahkan ada yang bertahun-tahun sebelumnya) telah “mengiklankan” dirinya kemana-mana bahwa ia akan berangkat haji. Hal ini menimbulkan pertanyaan : untuk siapakah ia berhaji? Untuk Allah atau untuk diketahui manusia? Jika sekedar pemberitahuan, maka mengapa tidak mencukupkan dengan memberi kabar sekedarnya saja (lewat hp, sms, surat, e-mail, dsb). Bahkan kebiasaan masyarakat di tempat ana, calon jamaah haji sebelum berangkat membuat selamatan ala-ala walimah pernikahan dengan mengundang banyak orang, terkadang ditambah dengan spanduk besar di depan rumah bertuliskan : “Akan berangkat haji Fulan bin Fulan” yang dapat dibaca ramai manusia yang melewati rumahnya. Maka, dimanakah keikhlasan itu? Wallahul musta’an.
Betapa benarnya perkataan seorang tabi’in yang mulia, Syuraih al-Qadhi yang berkata : “Rombongan yang berangkat haji banyak, tetapi orang yang haji sedikit. Betapa banyak orang yang mengerjakan kebaikan, tetapi sangat sedikit orang yang meniatkan ikhlas mengharap ridha-Nya.” (Lathaif al-Ma’arif : 419-120, Ibnu Rajab al-Hanbali).
Apakah definisi haji mabrur itu? Imam Ibnu Abdil Barr berkata : “Haji mabrur yaitu haji yang tiada riya’ dan sum’ah di dalamnya, tiada kefasikan dan (berangkat haji) dari harta yang halal”. (At-Tamhid : 22/39, Ibnu Abdil Barr; Masa’il Yaktsuru Su’al ‘Ahna : 12-13, Abdullah bin Shalih al-Fauzan).
Maksud tiada riya’ dan sum’ah adalah mengerjakan haji ikhlas untuk Allah semata dan tidak berhasrat untuk dilihat dan didengar manusia dalam amal perbuatannya.
Tapi lihatlah fenomena yang terjadi di masyarakat kita sekarang ini. Rasanya ramai calon jamaah haji yang jauh-jauh hari sebelumnya (bahkan ada yang bertahun-tahun sebelumnya) telah “mengiklankan” dirinya kemana-mana bahwa ia akan berangkat haji. Hal ini menimbulkan pertanyaan : untuk siapakah ia berhaji? Untuk Allah atau untuk diketahui manusia? Jika sekedar pemberitahuan, maka mengapa tidak mencukupkan dengan memberi kabar sekedarnya saja (lewat hp, sms, surat, e-mail, dsb). Bahkan kebiasaan masyarakat di tempat ana, calon jamaah haji sebelum berangkat membuat selamatan ala-ala walimah pernikahan dengan mengundang banyak orang, terkadang ditambah dengan spanduk besar di depan rumah bertuliskan : “Akan berangkat haji Fulan bin Fulan” yang dapat dibaca ramai manusia yang melewati rumahnya. Maka, dimanakah keikhlasan itu? Wallahul musta’an.
Betapa benarnya perkataan seorang tabi’in yang mulia, Syuraih al-Qadhi yang berkata : “Rombongan yang berangkat haji banyak, tetapi orang yang haji sedikit. Betapa banyak orang yang mengerjakan kebaikan, tetapi sangat sedikit orang yang meniatkan ikhlas mengharap ridha-Nya.” (Lathaif al-Ma’arif : 419-120, Ibnu Rajab al-Hanbali).
Langganan:
Postingan (Atom)