Diantara ‘keajaiban’ hati yang ana temukan adalah mudahnya ia berganti. Boleh jadi dalam 5 menit hati seseorang dapat berubah dari cinta menjadi benci, atau sebaliknya dari benci menjadi simpati. Maka barangsiapa yang tujuan dakwahnya selalu ingin mendapatkan hati (baca : ridha) manusia, maka ia telah memulai pekerjaan yang melelahkan bagi jiwanya.
Renungkanlah firman Allah Ta’ala :
لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مَّا أَلَّفَتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَـكِنَّ اللّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ
“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (QS. Al-Anfal : 63).
Allah telah menyatakan bahwa tidak mungkin untuk mendapatkan ridha seluruh manusia. Maka janganlah membebani diri untuk selalu mengejarnya, bahkan menjadikannya dalam dakwah sebagai tujuan utama. Sungguh, mencari ridha manusia adalah pekerjaan yang sia-sia.
Imam Asy-Syafi’i pernah berkata : “Keridhaan manusia adalah suatu yang sulit dicapai, maka hendaklah engkau memperbaiki dirimu dan kerjakanlah dengan sungguh-sungguh, karena tiada jalan membuat seluruh manusia ridha terhadapmu.” (Hilyatul Auliya' : 9/122).
Kamis, 21 Juli 2011
Rabu, 20 Juli 2011
Musafir
تمر بنا الأيام تترى وإنما
نساق إلى الآجال والعين تنظر
فلا عائد ذاك الشباب الذي مضى
ولا زائل هذا المشيب المكدر
“Hari-hari berlalu kepada kita semua silih berganti;
Kita hanyalah digiring kepada ajal sedangkan mata melihatnya sendiri;
Masa muda yang telah berlalu tidak akan pernah kembali;
Dan uban yang telah keruh tidak akan pernah pergi.”
(Syadzaratudz Dzahab : 6/231).
نساق إلى الآجال والعين تنظر
فلا عائد ذاك الشباب الذي مضى
ولا زائل هذا المشيب المكدر
“Hari-hari berlalu kepada kita semua silih berganti;
Kita hanyalah digiring kepada ajal sedangkan mata melihatnya sendiri;
Masa muda yang telah berlalu tidak akan pernah kembali;
Dan uban yang telah keruh tidak akan pernah pergi.”
(Syadzaratudz Dzahab : 6/231).
Kamis, 14 Juli 2011
Anak Tetangga
Namanya Dayat. Ia adalah anak tetangga sebelah rumah ana. Usianya baru sekitar 8 tahun dan sekarang belajar di sekolah penghafal (tahfiz) Al-Qur’an.
Ana pernah bertanya kepadanya apa cita-citanya? Ia menjawab : “Saya ingin menjadi Ustadz!”. Ana gembira mendengarnya, karena cita-cita semacam itu jarang kita dengar dari anak-anak pada zaman sekarang.
Inti cerita yang ingin ana sampaikan adalah bekalilah anak sedini mungkin dengan pendidikan agama yang kuat. Asas agama yang kuat pada masa kanak-kanak akan membentuk pondasi keimanan dan pengetahuan yang kokoh, sebagai bekal bagi mereka untuk melangkah pada fase selanjutnya. Bahkan tak jarang, 'bonusnya' adalah mendapatkan kemuliaan di waktu masih muda belia.
Lihatlah Sufyan bin ‘Uyainah (wafat 198 H). Beliau telah hafal Al-Qur’an ketika baru berumur 4 tahun. Ketika umur 7 tahun beliau telah menulis (meriwayatkan) hadits. Dalam kitab Al-Kifayah fi ‘Ilmi ar-Riwayah diceritakan Sufyan bin ‘Uyainah ketika umur 10 tahun sudah duduk bersama para ulama di majelis-majelis ilmu. Sehingga kalau ia masuk sebuah majelis ilmu, maka para hadirin akan berkata: “Luaskan tempat untuk Syaikh kecil!”
Semua itu berkat ilmu yang dipelajari sejak dini. Maka kemuliaan juga cepat mendatangi.
Ana pernah bertanya kepadanya apa cita-citanya? Ia menjawab : “Saya ingin menjadi Ustadz!”. Ana gembira mendengarnya, karena cita-cita semacam itu jarang kita dengar dari anak-anak pada zaman sekarang.
Inti cerita yang ingin ana sampaikan adalah bekalilah anak sedini mungkin dengan pendidikan agama yang kuat. Asas agama yang kuat pada masa kanak-kanak akan membentuk pondasi keimanan dan pengetahuan yang kokoh, sebagai bekal bagi mereka untuk melangkah pada fase selanjutnya. Bahkan tak jarang, 'bonusnya' adalah mendapatkan kemuliaan di waktu masih muda belia.
Lihatlah Sufyan bin ‘Uyainah (wafat 198 H). Beliau telah hafal Al-Qur’an ketika baru berumur 4 tahun. Ketika umur 7 tahun beliau telah menulis (meriwayatkan) hadits. Dalam kitab Al-Kifayah fi ‘Ilmi ar-Riwayah diceritakan Sufyan bin ‘Uyainah ketika umur 10 tahun sudah duduk bersama para ulama di majelis-majelis ilmu. Sehingga kalau ia masuk sebuah majelis ilmu, maka para hadirin akan berkata: “Luaskan tempat untuk Syaikh kecil!”
Semua itu berkat ilmu yang dipelajari sejak dini. Maka kemuliaan juga cepat mendatangi.
Selasa, 05 Juli 2011
Sibuk
Beberapa waktu belakangan ini kegiatan membaca dan menulis ana agak 'terganggu'. Terganggu karena ana disibukkan dengan urusan dunia dan keluarga. Rasanya agak 'berduka' melihat tumpukan buku yang tidak sempat dibaca, dan sedih memikirkan sederetan ide yang terlintas tapi tidak dapat diwujudkan lewat tulisan.
Mungkin kendalanya ana belum menemukan pengaturan masa yang ideal antara ilmu dan urusan dunia. Atau mungkin juga karena ana kurang berani mengorbankan sedikit urusan dunia.
Dulu Abu Ahmad Nashr bin Ahmad as-Samarqandi berkata : “Ilmu tidak dapat didapatkan kecuali oleh orang yang mengosongkan kedainya, meruntuhkan kebunnya, meninggalkan teman-temannya, dan ketika keluarganya meninggal ia tidak bisa menyaksikan jenazahnya”. Ibnu Jama’ah mengomentari ucapan itu dengan berkata : “Semua ini sekalipun merupakan ungkapan mubalaghah (berlebihan) maksudnya adalah bahwa penuntut ilmu harus menggabungkan hati dan menyatukan pikiran.” (Tadzkirah as-Sami’ wal Mutakallim : 71).
Dulu Abu Ahmad Nashr bin Ahmad as-Samarqandi berkata : “Ilmu tidak dapat didapatkan kecuali oleh orang yang mengosongkan kedainya, meruntuhkan kebunnya, meninggalkan teman-temannya, dan ketika keluarganya meninggal ia tidak bisa menyaksikan jenazahnya”. Ibnu Jama’ah mengomentari ucapan itu dengan berkata : “Semua ini sekalipun merupakan ungkapan mubalaghah (berlebihan) maksudnya adalah bahwa penuntut ilmu harus menggabungkan hati dan menyatukan pikiran.” (Tadzkirah as-Sami’ wal Mutakallim : 71).
Wallahul Musta’an.
Kamis, 16 Juni 2011
Sikap-Sikap Yang Disukai Dan Tidak Disukai Manusia
Ada beberapa adab yang mesti kita perhatikan dalam pergaulan sesama manusia. Diantara adab yang penting adalah hendaklah kita mengetahui sikap-sikap yang disukai manusia dan sikap-sikap yang tidak disukai manusia.
Sikap-sikap yang disukai manusia seperti :
1. Manusia suka kepada orang yang memberi perhatian kepada orang lain.
2. Manusia suka kepada orang yang mau mendengar ucapan mereka.
3. Manusia suka kepada orang yang menjauhi debat kusir.
4. Manusia suka kepada orang yang memberikan penghargaan dan penghormatan kepada orang lain.
5. Manusia suka kepada orang yang memberi kesempatan orang lain untuk maju.
6. Manusia suka kepada orang yang tahu berterima kasih atau suka membalas kebaikan.
7. Manusia suka kepada orang yang menjaga perasaan orang lain.
Sedangkan sikap-sikap yang tidak disukai manusia seperti :
1. Manusia tidak suka diberi nasihat di hadapan orang lain.
2. Manusia tidak suka diberi nasihat secara langsung.
3. Manusia tidak suka kepada orang yang selalu memojokkannya dengan kesalahan-kesalahannya.
4. Manusia tidak suka kepada orang yang tidak pernah melupakan kesalahan orang lain.
5. Manusia tidak suka kepada orang yang sombong.
6. Manusia tidak suka kepada orang yang terburu-buru memvonis orang lain.
7. Manusia tidak suka kepada orang yang mempertahankan kesalahannya, atau orang yang berat untuk merujuk kepada kebenaran setelah dia meyakini kebenaran itu.
8. Manusia tidak suka kepada orang yang menisbatkan kebaikan kepada dirinya dan menisbatkan kejelekan kepada orang lain.
(Dari buku Adab Bergaul, karangan Ustadz Fariq bin Gasim, hal. 37-81).
Sikap-sikap yang disukai manusia seperti :
1. Manusia suka kepada orang yang memberi perhatian kepada orang lain.
2. Manusia suka kepada orang yang mau mendengar ucapan mereka.
3. Manusia suka kepada orang yang menjauhi debat kusir.
4. Manusia suka kepada orang yang memberikan penghargaan dan penghormatan kepada orang lain.
5. Manusia suka kepada orang yang memberi kesempatan orang lain untuk maju.
6. Manusia suka kepada orang yang tahu berterima kasih atau suka membalas kebaikan.
7. Manusia suka kepada orang yang menjaga perasaan orang lain.
Sedangkan sikap-sikap yang tidak disukai manusia seperti :
1. Manusia tidak suka diberi nasihat di hadapan orang lain.
2. Manusia tidak suka diberi nasihat secara langsung.
3. Manusia tidak suka kepada orang yang selalu memojokkannya dengan kesalahan-kesalahannya.
4. Manusia tidak suka kepada orang yang tidak pernah melupakan kesalahan orang lain.
5. Manusia tidak suka kepada orang yang sombong.
6. Manusia tidak suka kepada orang yang terburu-buru memvonis orang lain.
7. Manusia tidak suka kepada orang yang mempertahankan kesalahannya, atau orang yang berat untuk merujuk kepada kebenaran setelah dia meyakini kebenaran itu.
8. Manusia tidak suka kepada orang yang menisbatkan kebaikan kepada dirinya dan menisbatkan kejelekan kepada orang lain.
(Dari buku Adab Bergaul, karangan Ustadz Fariq bin Gasim, hal. 37-81).
Kamis, 09 Juni 2011
Berilah Hadiah Untuk Mempererat Ukhuwah
Ana mengenal seorang hamba Allah yang jika mempunyai kelapangan rezeki maka ia salurkan dengan memberi hadiah kepada sahabat-sahabatnya. Hadiah yang paling sering ia berikan adalah buku dan majalah agama. Beliau bercerita bahwa ‘hobi’-nya tersebut ia lakukan untuk mempererat rasa persaudaraan serta sebagai sarana dakwah. Dan berdasarkan pengalamannya, memang terbukti bahwa memberi hadiah sangat efektif untuk mengikat hati seseorang.
Maka alangkah benarnya hadits yang menyatakan :
تَهَادَوْا تَحَابُّوا
“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai.”
(HR. Al-Baihaqi dalam Sunan-nya : 6/169, dinilai hasan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram no.965 dan Syaikh Al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil no.1601).
Dalam sebuah syair disebutkan :
هدايـا النـاس بعضهم لبعض
تولد فـي قلوبهم الوصالا
“Hadiah-hadiah yang diberikan sesama manusia
Dapat mendatangkan keeratan hubungan dalam hati-hati mereka.”
Para salaf dahulu juga telah menerapkan akhlak yang mulia ini, bahkan mereka sanggup mengirim hadiah kepada sahabatnya yang jauh walaupun hadiah tersebut tidak seberapa nilainya. Seperti yang diceritakan Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliya' (8/221), bahwa Muhammad bin Nadhar pernah mengirim sepasang sandal kepada seorang sahabatnya di daerah Abadan. Lalu ia menulis pesan : “Aku mengirimkannya kepadamu walau kusadari engkau tidak membutuhkannya. Akan tetapi, aku ingin engkau tahu bahwa engkau mempunyai tempat dihatiku.”
Maka alangkah benarnya hadits yang menyatakan :
تَهَادَوْا تَحَابُّوا
“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai.”
(HR. Al-Baihaqi dalam Sunan-nya : 6/169, dinilai hasan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram no.965 dan Syaikh Al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil no.1601).
Dalam sebuah syair disebutkan :
هدايـا النـاس بعضهم لبعض
تولد فـي قلوبهم الوصالا
“Hadiah-hadiah yang diberikan sesama manusia
Dapat mendatangkan keeratan hubungan dalam hati-hati mereka.”
Para salaf dahulu juga telah menerapkan akhlak yang mulia ini, bahkan mereka sanggup mengirim hadiah kepada sahabatnya yang jauh walaupun hadiah tersebut tidak seberapa nilainya. Seperti yang diceritakan Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliya' (8/221), bahwa Muhammad bin Nadhar pernah mengirim sepasang sandal kepada seorang sahabatnya di daerah Abadan. Lalu ia menulis pesan : “Aku mengirimkannya kepadamu walau kusadari engkau tidak membutuhkannya. Akan tetapi, aku ingin engkau tahu bahwa engkau mempunyai tempat dihatiku.”
Selasa, 07 Juni 2011
Kisah Perjuangan Sekelompok Narapidana Untuk Menghafal Al-Qur’an
Dr. Yahya Al-Ghautsani berkata :
“Diantara kisah lucu yang saya dengar adalah sekelompok narapidana yang tidak memiliki mushaf. Masing-masing dari mereka membacakan apa yang ia hafal dari Al-Qur’an kepada yang lain, sehingga mereka dapat menghafal Al-Qur’an seluruhnya kecuali satu lembar terakhir dari surah Al-Anfal karena tidak ada seorang pun dari mereka yang hafal. Hal tersebut sangat membuat mereka resah. Hingga tiba giliran salah seorang dari mereka dibawa ke mahkamah untuk diadili. Ketika orang yang hendak diadili itu menunggu proses peradilannya, yang pertama terlintas di benaknya adalah mencari orang yang hafal akhir dari surah Al-Anfal. Dan ia menemukan orang yang hafal akhir surah Al-Anfal dari para hadirin yang menghadiri persidangannya. Sang narapidana itu langsung bergegas menghafalnya. Lalu ketika ia kembali ke penjara ia segera membacakan akhir dari surah Al-Anfal kepada teman-temannya, sehingga mereka dapat menghafalnya seperti menghafal surah Al-Fatihah.”
(Kaifa Tahfazh Al-Qur’an, hal.162, lewat perantaraan buku "Agar Anak Mudah Menghafal Al-Qur’an", Hamdan Hamud Al-Hajiri, hal.179 -dengan peringkasan-).
“Diantara kisah lucu yang saya dengar adalah sekelompok narapidana yang tidak memiliki mushaf. Masing-masing dari mereka membacakan apa yang ia hafal dari Al-Qur’an kepada yang lain, sehingga mereka dapat menghafal Al-Qur’an seluruhnya kecuali satu lembar terakhir dari surah Al-Anfal karena tidak ada seorang pun dari mereka yang hafal. Hal tersebut sangat membuat mereka resah. Hingga tiba giliran salah seorang dari mereka dibawa ke mahkamah untuk diadili. Ketika orang yang hendak diadili itu menunggu proses peradilannya, yang pertama terlintas di benaknya adalah mencari orang yang hafal akhir dari surah Al-Anfal. Dan ia menemukan orang yang hafal akhir surah Al-Anfal dari para hadirin yang menghadiri persidangannya. Sang narapidana itu langsung bergegas menghafalnya. Lalu ketika ia kembali ke penjara ia segera membacakan akhir dari surah Al-Anfal kepada teman-temannya, sehingga mereka dapat menghafalnya seperti menghafal surah Al-Fatihah.”
(Kaifa Tahfazh Al-Qur’an, hal.162, lewat perantaraan buku "Agar Anak Mudah Menghafal Al-Qur’an", Hamdan Hamud Al-Hajiri, hal.179 -dengan peringkasan-).
Langganan:
Postingan (Atom)