Selasa, 15 November 2011

Berilmu Dan Berlemah-Lembutlah

Umar bin Abdul Aziz pernah mengatakan :

الحلم والعلم خَلَّتا كرمٍ
للمرء زينٌ إذ هما اجتمعا

صنوانِ لا يَسْتَتِمُّ حسنُهما
إلا بجمع بذا وذاك معا

كم من وضيع سما به الحلم والـ
ـعلم فحاز السناء وارتفعا

ومن رفيع البنا أضاعهما
أخمله ما أضاع فاتضعا

“Lemah lembut dan berilmu adalah ciri khas dari sebuah kemuliaan,
Apabila hal itu berada pada seseorang maka baginya itulah perhiasan;

Dua hal tersebut keindahannya tidak akan mencapai kesempurnaan,
Kecuali dengan keduanya dalam kebersamaan;

Betapa banyak orang yang rendah lalu berakhlak dengan kelemah-lembutan
dan keilmuan, maka ia mendapatkan kedudukan yang tinggi serta pujian;

Dan betapa banyak orang terhormat yang kehilangan keduanya,
Lalu membuatnya ikut hilang dan terlupakan.”

(Dari Adabul Mau’idzah hal.17, Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd).

Kamis, 27 Oktober 2011

Orang-Orang Yang Beruntung

Imam Adz-Dzahabi menceritakan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu pernah dalam sebuah majelis mendapatkan 30.000 dinar. Tapi dalam bulan berikutnya ia tidak memakan sepotong dagingpun, itu semua karena hartanya habis diinfakkan. (Siyar A’lam An-Nubala' : 3/128).

Sedangkan seorang ulama terkenal bernama Laits bin Saad, beliau mendapatkan gaji 20.000 dinar setiap tahun. Ia berkata : “Meski hartaku sebanyak ini, aku tidak pernah terkena zakat.” (Tarikh Baghdad : 13/80). Hal ini karena harta beliau digunakan untuk berinfak di jalan Allah dan habis sebelum satu tahun, sehingga ia tidak pernah terkena kewajiban zakat.

Mereka adalah sekelumit contoh generasi salaf yang dipelihara dari sifat bakhil terhadap harta. Ana percaya, sungguh berat bagi generasi kita untuk berbuat seperti mereka. Tapi setidaknya, tirulah sifat gemar bersedekah dan kedermawanan mereka.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun : 16).

Sebaik-baik pujian adalah pujian dari Yang Maha Pencipta. Sekarang tergantung kita, maukah kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung nan mulia?

Rabu, 19 Oktober 2011

Membaca Buku Tanpa Lampu ?

Pernahkah membaca buku dalam cahaya yang minim (misal di depan lilin)? Jika pernah, pasti merasakan hal tersebut tidak menyenangkan, karena mata harus bekerja ekstra untuk membaca. Ana sendiri termasuk yang “menyerah” alias berhenti membaca jika listrik mati di malam hari. Karena jika dipaksakan, rasanya mata tidak kuat untuk membaca lama.

Terkadang ana terpikir, bagaimana ulama zaman dahulu -ketika belum ditemukan lampu listrik- membaca di malam hari? Ternyata semangat mereka tetap luar biasa, seperti cerita berikut :

Al-Qadhi Iyadh dalam kitabnya Tartib al-Madarik (1/78) ketika menceritakan biografi Imam Abu Muhammad Abdullah bin Ishaq, yang terkenal dengan julukan Ibnu Tabban (wafat 371 H). Ibnu Tabban pernah menceritakan dirinya : “Pertama kali aku masuk sekolah dasar, aku membaca semalam suntuk. Ibuku kemudian melarangku membaca di malam hari. Lalu akupun mengambil lentera kemudian menyembunyikannya di bawah mangkuk besar, dan pura-pura segera tidur. Jika ibuku sudah tidur nyenyak, maka aku pun mengambil lentera tersebut dan mulai membaca lagi.”
Al-Qadhi Iyadh berkata : “Dia (Ibnu Tabban) adalah tipe orang yang gemar membaca. Dia pernah membaca satu buku sebanyak 1000 kali.”

Demikianlah semangat para ulama salaf kita. Semoga Allah Ta’ala merahmati mereka atas kesungguhan mereka dalam menuntut ilmu. Dan semoga Allah mengkaruniakan kepada generasi kita kesungguhan yang serupa ataupun yang mendekatinya..

Senin, 17 Oktober 2011

Setelah Kesulitan Pasti Ada Kemudahan

Pernah seorang teman menceritakan kesusahan hidupnya. Dia merasa dunia sangat sempit baginya, dan ia hampir putus asa untuk mencari solusinya. Selang beberapa lama ana bertemu dengannya, wajahnya telah kembali ceria menandakan kesusahan hidupnya telah sirna. Alhamdulillah.

Begitulah sunnatullah di dunia ini. Tidak ada kesusahan yang terus menerus. Sebagaimana tidak ada kesenangan yang abadi. Semua akan datang silih berganti. Maka tidak semestinya seorang mukmin merasa putus asa ketika kesulitan menerpa, karena setelah itu kemudahan pasti akan menggantikannya. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman :

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً . إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah : 5-6).

Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengenai ayat tersebut : “Ayat ini memberi kabar gembira tatkala orang menjumpai kesulitan dan kesukaran, maka kemudahan pasti menemaninya. Seandainya kesulitan sesulit lubang biawak, maka kemudahan pun akan memasuki lalu melepas kesulitan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (dalam ayat yang lain) :

سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْراً

”Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” [QS. Ath-Thalaq : 7]. (Taisir Al-Karim Ar-Rahman : 1/929).

Imam Al-Khaththabi berkata : “Jika kita lihat teks ayat (QS. Alam Nasyrah : 5-6) diatas, disebutkan ada dua kesulitan dan ada dua kemudahan. Akan tetapi, kesulitan itu hanya (dihitung) sekali karena datang dengan isim ma’rifat (tertentu), sedangkan kemudahan menunjukkan nakiroh (umum, jumlahnya banyak) menunjukkan bahwa yang pertama berlainan dengan yang kedua. Maksudnya kesulitan itu berada di antara dua kemudahan, yaitu kemudahan di dunia dan kemudahan berupa pahala di akhirat.” (Syarh Kitab At-Tauhid : 8/92, Al-Ghunaiman).

Oleh karena itu, seorang mukmin tidak boleh berputus asa ketika ditimpa kesulitan. Karena kemudahan pasti akan datang setelahnya, dengan jumlah yang lebih banyak daripada kesulitan yang dialaminya.

(Tulisan ini mengambil faedah dari pembahasan di Majalah Al-Furqon edisi 4/Tahun ke 11, hal. 6-12).

Kamis, 29 September 2011

Berakhlaklah Mulia Maka Engkau Akan Dicintai Manusia

Seorang pendakwah tidaklah cukup dengan berbekal ilmu saja, tetapi hendaklah ia membekali dirinya dengan akhlak mulia. Karena diantara sebab tidak diterimanya dakwah dalam masyarakat adalah bersumber dari kegagalan dalam berakhlak mulia. Maka hendaklah setiap orang yang berakal mengambil pelajaran daripadanya.

Sungguh tabiat manusia tidak menyukai akhlak yang tercela, meskipun pemiliknya adalah seorang yang berilmu nyaris sempurna. Imam Al-Khatib Al-Baghdadi (wafat 463 H) dalam mukaddimah kitabnya Iqtidha’ Al Ilmi Al Amal berkata : “Yang paling memprihatinkan adalah seorang ahli ilmu yang ditinggalkan manusia karena keburukan akhlaknya, atau seorang bodoh yang diikuti manusia karena banyak ibadahnya.” Renungkanlah perkataan beliau -rahimahullah- tersebut, maka akan kita dapatkan kebenaran kata-katanya.

Dalam sebuah syair dikatakan :

أحسن إلى الناس تستعبد قلوبهم
فطالما استعبد الإنسان إحسان

“Berbuat baiklah kepada manusia niscaya engkau akan mendapatkan hati mereka;
Betapa sering perbuatan baik itu dapat menundukkan manusia.”

Maka berakhlak mulialah kepada sesama manusia. Karena ilmu bukan hanya sekedar wacana, tapi juga menuntut pembuktian apakah seseorang sudah mengamalkannya.

Kamis, 22 September 2011

Keinginan Manusia Tidak Selalu Bermaslahat Untuk Dirinya

Mungkin saja jiwa seorang hamba menginginkan salah satu perkara dunia, yang mana ia menganggap dengan hal itu ia dapat mencapai tujuannya. Tapi Allah -dengan belas kasih-Nya- mengetahui bahwa hal itu merugikan buat hamba-Nya, kemudian Allah menghalangi keinginan hamba-Nya tersebut. Lalu hamba itu tidak menyukai keadaannya, dan ia tidak mengetahui bahwa Allah telah mengasihinya, dimana Dia meneguhkan perkara yang bermanfaat bagi hamba-Nya dan memalingkan perkara yang merugikan hamba-Nya.

Betapa banyak manusia yang sesak dan sempit dadanya karena kehilangan sesuatu yang disukai, atau datangnya sesuatu yang menyedihkan. Ketika hikmah perkara itu tersingkap dan rahasia takdir diketahui, anda akan melihatnya bergembira karena akibatnya ternyata baik untuk dirinya.

Dikatakan :

وربما سرني ما كنت أحذره
وربما ساءني ما كنت أرجوه

“Mungkin baik untukku sesuatu yang dulu aku menghindarinya,
Dan mungkin buruk untukku sesuatu yang dulu aku mengharapkannya.”

(Al-Iman bil Qadha' wal Qadar, Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, hal. 99-100 dengan diringkas).

Senin, 19 September 2011

Orang Bertakwa Senantiasa “Berpuasa” Di Dunia

Sesungguhnya setiap mukmin tidak hanya berpuasa di bulan Ramadhan saja, tapi juga berpuasa pada seluruh hari-harinya ketika ia di dunia. Mengapa demikian? Karena setiap hari ia berpuasa dari larangan Allah Ta’ala, berpuasa dari mengikuti hawa nafsunya, dan berpuasa dari bujukan syaitan kepadanya. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

Dikatakan “penjara” karena tidak semua keinginan di dunia boleh diturutkan dan bebas untuk hidup semaunya, tapi haruslah mengikuti aturan dari Sang Pencipta.

Sungguh indah perkataan Imam Ibnu Rajab dalam kitab Lathaif Al-Ma’arif-nya : “Dunia ini seluruhnya adalah bulan puasa bagi orang-orang yang bertakwa, sedangkan hari rayanya adalah hari pertemuan dengan Rabb-Nya. Dan sesungguhnya sebagian besar waktu siang untuk puasa telah lewat, sedangkan hari raya pertemuan dengan Rabb-Nya telah dekat.”

Maka wahai saudaraku, bersabarlah sampai datang hari berbuka tiba. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu meneguhkan iman kita ketika menjalani “puasa” di dunia.