Ana terkadang merasa “minder” melihat koleksi buku ana yang tidak seberapa dibandingkan koleksi teman lainnya. Jujur ana akui, satu-satunya penghalang untuk menambah koleksi buku adalah masalah biaya. Setiap bulan rasanya harus memeras otak bagaimana membagi uang gaji untuk kebutuhan sehari-hari dengan membeli buku :)
Untuk menghibur lara, biasanya ana mengingat-ingat perkataan seorang ulama yang pernah berkata : “Orang yang hanya memiliki sebuah mushaf Al-Qur’an dan mengamalkan isinya lebih baik daripada orang yang memiliki tumpukan buku yang tidak ia amalkan isinya.” Subhanallah, pertama kali ana mendengar perkataan tersebut, rasanya sangat memotivasi sekaligus menghibur gundah di dalam dada.
Lalu ana teringat pula cerita Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lam An-Nubala' ketika menceritakan biografi Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H). Dikisahkan bahwa Imam Al-Baihaqi tidak memiliki kitab Sunan An-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, dan tidak juga memiliki kitab Sunan At-Tirmidzi. Tapi lihatlah, Allah Ta’ala memberkahi ilmunya sehingga karya-karya Imam Al-Baihaqi sampai sekarang tetap dibaca dan diambil manfaatnya oleh generasi kita.
Maka ana cuma ingin berkata : “Jika ada yang mengalahkanmu dalam koleksi buku, maka kalahkan ia dalam mengamalkannya, walau koleksi bukumu tidak seberapa.”
Senin, 13 Agustus 2012
Selasa, 07 Agustus 2012
Tingkatan Manusia Dalam Takut Kepada Allah
Sesungguhnya manusia berbeda-beda sebab takutnya kepada Allah. Ada manusia yang takut kepada Allah karena berbuat dosa, dan inilah keadaan umumnya manusia. Ada pula golongan manusia yang takut kepada Allah karena ilmu, dan bukan karena telah berbuat maksiat. Yang demikian itu adalah sebaik-baik rasa takut kepada Allah. Rasa takut karena ilmu didasari oleh pengetahuan akan sifat-sifat Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Agung. Tingkatan ini hanya dapat diperoleh oleh orang yang berilmu.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Faathir : 28).
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Faathir : 28).
Minggu, 05 Agustus 2012
Lemari Buku
Beberapa hari yang lalu ketika ana sedang mencari sebuah buku, ana baru sadar bahwa lemari buku ana sudah melengkung. Mungkin karena terlalu berat menahan beban buku yang terlalu banyak. Wah, sepertinya ana memerlukan lemari buku yang baru.
Tapi masalahnya kalaupun jadi membeli lemari buku, mau ditaruh dimana ya lemarinya? Soalnya rumah yang ana tempati ini (rumah orang tua) sepertinya tidak ada lagi ruang kosong untuk sebuah lemari. Wajarlah, soalnya rumah ini tidak didesain memiliki ruangan khusus untuk menyimpan buku alias ruang perpustakaan.
Insya Allah, cita-cita ana kalau nantinya punya rumah sendiri, hal utama yang ana rencanakan adalah membuat ruangan khusus tempat menyimpan buku alias ruang perpustakaan. Kira-kira muat 3-4 lemari buku sudah lumayanlah untuk ukuran penuntut ilmu level beginner seperti ana :)
Kalau lemari bukunya jumlahnya di atas sepuluh lemari itu sih level-level ulama. Seperti yang diceritakan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Ad-Durar Al-Kaminah (2/183) tentang seorang ulama bernama Syafi’ bin Ali Al-Kinani (wafat 730 H). Dikisahkan ketika ulama tersebut wafat, koleksi buku-bukunya tersimpan dalam 20 lemari penuh! Diceritakan pula bahwa beliau hafal dengan semua koleksi buku-bukunya. Jika ada yang ingin meminjam salah satu bukunya, maka ia tahu persis di lemari mana tempat ia menyimpannya. (Berarti beliau tidak perlu lagi membuat katalog buku ^_^ ).
Semoga Allah Ta'ala merahmati para ulama kita atas kecintaan mereka terhadap ilmu, dan menganugerahkan kita semangat yang serupa. Amin.
Tapi masalahnya kalaupun jadi membeli lemari buku, mau ditaruh dimana ya lemarinya? Soalnya rumah yang ana tempati ini (rumah orang tua) sepertinya tidak ada lagi ruang kosong untuk sebuah lemari. Wajarlah, soalnya rumah ini tidak didesain memiliki ruangan khusus untuk menyimpan buku alias ruang perpustakaan.
Insya Allah, cita-cita ana kalau nantinya punya rumah sendiri, hal utama yang ana rencanakan adalah membuat ruangan khusus tempat menyimpan buku alias ruang perpustakaan. Kira-kira muat 3-4 lemari buku sudah lumayanlah untuk ukuran penuntut ilmu level beginner seperti ana :)
Kalau lemari bukunya jumlahnya di atas sepuluh lemari itu sih level-level ulama. Seperti yang diceritakan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Ad-Durar Al-Kaminah (2/183) tentang seorang ulama bernama Syafi’ bin Ali Al-Kinani (wafat 730 H). Dikisahkan ketika ulama tersebut wafat, koleksi buku-bukunya tersimpan dalam 20 lemari penuh! Diceritakan pula bahwa beliau hafal dengan semua koleksi buku-bukunya. Jika ada yang ingin meminjam salah satu bukunya, maka ia tahu persis di lemari mana tempat ia menyimpannya. (Berarti beliau tidak perlu lagi membuat katalog buku ^_^ ).
Semoga Allah Ta'ala merahmati para ulama kita atas kecintaan mereka terhadap ilmu, dan menganugerahkan kita semangat yang serupa. Amin.
Kamis, 15 Maret 2012
Cara Mengetahui Tiga Perkara
Luqman Al-Hakim berkata kepada anaknya :
“Wahai anakku, ada tiga perkara yang tidak dapat diketahui kecuali pada tiga tempat : Tidak diketahui seorang yang lembut kecuali pada saat dia marah; tidak diketahui seorang yang pemberani kecuali pada saat perang; dan tidak diketahui seorang saudara kecuali pada saat kita membutuhkannya.”
(Al-Adab Asy-Syar'iyyah : 3/534).
“Wahai anakku, ada tiga perkara yang tidak dapat diketahui kecuali pada tiga tempat : Tidak diketahui seorang yang lembut kecuali pada saat dia marah; tidak diketahui seorang yang pemberani kecuali pada saat perang; dan tidak diketahui seorang saudara kecuali pada saat kita membutuhkannya.”
(Al-Adab Asy-Syar'iyyah : 3/534).
Jumat, 24 Februari 2012
Yang Masih Tersisa
Ana selalu terkagum-kagum membaca kisah kesungguhan para ulama dalam menuntut ilmu. Ada yang sanggup berjalan berbulan-bulan di padang pasir untuk mencari hadis. Ada yang tidak makan berhari-hari karena sibuk menuntut ilmu. Ada yang tidak tidur seharian karena sibuk belajar. Merekalah orang-orang seperti dikatakan dalam sebuah syair :
وإذا كانت النفوس كبارا
تعبت في مرادها الأجسام
“Jika jiwa itu besar (cita-citanya),
Maka tubuh akan lelah menuruti keinginannya”
Sedangkan kondisi di zaman ini, hanya kepada Allah kita mengadu atas lemahnya semangat para pencari ilmu. Semoga Allah menjaga yang masih tersisa dan selalu memberkahi ilmu mereka.
وإذا كانت النفوس كبارا
تعبت في مرادها الأجسام
“Jika jiwa itu besar (cita-citanya),
Maka tubuh akan lelah menuruti keinginannya”
Sedangkan kondisi di zaman ini, hanya kepada Allah kita mengadu atas lemahnya semangat para pencari ilmu. Semoga Allah menjaga yang masih tersisa dan selalu memberkahi ilmu mereka.
Selasa, 14 Februari 2012
Ilmu Tidak Didapatkan Secara Warisan
Dulu ana pernah melihat film dokumenter mengenai seorang ulama besar di zaman ini. Ada satu bagian menarik dari film dokumenter tersebut yakni ketika diceritakan bahwa ulama tersebut memiliki seorang putra, dan sebagaimana kebiasaan orang shalih umumnya beliau mengharap putranya kelak dapat menjadi ulama sepertinya. Maka anak ulama tersebut sejak kecil ditanamkan nilai-nilai agama. Ia beribadah di waktu siang dan malam. Manusia mencintainya dan ia mencintai manusia. Namun ketika ia beranjak dewasa, ia tampaknya kurang meminati ilmu agama.
Ana lalu teringat perkataan Imam Ahmad yang pernah berkata : “Sesungguhnya ilmu adalah karunia yang diberikan Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Ia tidak didapatkan lewat keturunan. Seandainya ilmu bisa didapatkan lewat keturunan, tentulah ahli bait Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang lebih berhak untuk mendapatkannya.” Imam Malik pernah melihat anaknya yang bernama Yahya lebih senang bermain-main ketimbang menuntut ilmu, maka Imam Malik berkata : “Alhamdulillah, Allah tidak menjadikan ilmu ini seperti harta warisan.” (Lihat Ma’alim fi Thariq Thalab Al-Ilmi, hal. 56, Syaikh Muhammad As-Sadhan).
Faedah dari pembahasan ini adalah : Anak seorang ulama belum tentu nantinya menjadi ulama, dan anak dari yang bukan ulama bisa jadi nantinya menjadi seorang ulama. Allah memberi karunia kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan bagi yang mendapatkannya ia mempunyai keberuntungan yang tidak terhingga.
Ana lalu teringat perkataan Imam Ahmad yang pernah berkata : “Sesungguhnya ilmu adalah karunia yang diberikan Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Ia tidak didapatkan lewat keturunan. Seandainya ilmu bisa didapatkan lewat keturunan, tentulah ahli bait Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang lebih berhak untuk mendapatkannya.” Imam Malik pernah melihat anaknya yang bernama Yahya lebih senang bermain-main ketimbang menuntut ilmu, maka Imam Malik berkata : “Alhamdulillah, Allah tidak menjadikan ilmu ini seperti harta warisan.” (Lihat Ma’alim fi Thariq Thalab Al-Ilmi, hal. 56, Syaikh Muhammad As-Sadhan).
Faedah dari pembahasan ini adalah : Anak seorang ulama belum tentu nantinya menjadi ulama, dan anak dari yang bukan ulama bisa jadi nantinya menjadi seorang ulama. Allah memberi karunia kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan bagi yang mendapatkannya ia mempunyai keberuntungan yang tidak terhingga.
Sabtu, 11 Februari 2012
Faedah Diam Untuk Orang 'Alim Dan Orang Jahil
Ada kata hikmah mengatakan :
الصمت زين للعالم وسترللجاهل
“Diam adalah hiasan bagi orang ‘alim dan tabir bagi orang bodoh.”
Maksudnya adalah :
Diamnya orang ‘alim (berilmu) dapat menambah kewibawaan dirinya. Ia tidak akan berbicara kecuali hanya pada perkara yang ada maslahatnya.
Sedangkan bagi orang bodoh, maka diam adalah tabir untuk menutupi kebodohannya. Karena jika ia diam, maka kebodohannya tidak akan diketahui manusia lainnya.
الصمت زين للعالم وسترللجاهل
“Diam adalah hiasan bagi orang ‘alim dan tabir bagi orang bodoh.”
Maksudnya adalah :
Diamnya orang ‘alim (berilmu) dapat menambah kewibawaan dirinya. Ia tidak akan berbicara kecuali hanya pada perkara yang ada maslahatnya.
Sedangkan bagi orang bodoh, maka diam adalah tabir untuk menutupi kebodohannya. Karena jika ia diam, maka kebodohannya tidak akan diketahui manusia lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)