Minggu, 27 Februari 2011

Buah Keikhlasan Dalam Berdakwah

Ana mengenal dua orang da'i di suatu kota. Sebut saja namanya da'i A dan da'i B. Mereka sama-sama berdakwah di jalan Ahlus Sunnah. Akidah dan manhaj mereka sama. Buku-buku rujukan mereka juga serupa.

Da'i A seorang yang kaya raya, mempunyai koleksi buku yang tak terhitung banyaknya, bahkan beliau seorang pengurus Majelis Ulama di kotanya.Tapi majelis taklimnya hanya sedikit dihadiri manusia, walaupun sang da'i sudah mengiklankan lewat radio mengenai jadwal taklimnya.

Sedangkan da'i B, adalah seorang yang hidupnya sederhana. Kemana-mana ia hanya naik sepeda (ana lihat beliau sekarang sudah naik motor, walaupun motor tua, alhamdulillah). Tidak pernah mempromosikan kegiatan dakwahnya. Koleksi buku-bukunya juga tidak sampai memenuhi lemarinya (bahkan banyak bukunya hanyalah buku terjemahan saja). Tapi majelis taklimnya dihadiri ramai manusia, dan permintaan untuk berceramah selalu mendatanginya.

Ana memikirkan kejadian itu, dan mendapatkan faedah bahwa dakwah amatlah memerlukan keikhlasan dan tidak cukup berbekal ketinggian ilmu semata. Dakwah semestinya tidak mempunyai tujuan lain selain hanya mengharap ridha Allah dan bukan mencari ridha manusia. Sungguh, jika Allah mencintai seseorang maka Allah akan menjadikan manusia lain turut mencintai orang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي أَهْلِ الْأَرْضِ

"Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menyeru Jibril : "Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia." Maka Jibril pun mencintai orang tersebut, lalu Jibril menyeru kepada penghuni langit : "Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah fulan" maka penduduk langit pun mencintai orang tersebut, hingga akhirnya ditetapkan bagi fulan untuk diterima di bumi  (maksudnya penduduk bumi juga mencintai orang tersebut -ket)." (HR. Bukhari).

Niat ikhlas dalam berdakwah juga akan membuahkan hasil yang tidak disangka-sangka. Ana teringat dengan pengalaman seorang hamba Allah -sebut saja namanya Abdullah-. Abdullah beberapa tahun yang lalu gemar menulis artikel agama dan menyebarkannya dalam bentuk pamflet maupun buletin. Beliau mengerjakan itu semua bukan untuk mencari popularitas, tidak pula agar dipuji manusia, bukan pula agar ia dipanggil 'ustadz'. Ia menyebarkan artikel-artikelnya hanya untuk menyebarkan ilmu dan mencari keridhaan Allah. Beberapa tahun kemudian, Abdullah baru mengetahui -tanpa disengaja- ternyata artikel-artikelnya telah diperbanyak orang untuk kepentingan dakwah. Subhanallah, ternyata Allah membalas dengan 'memperbanyak' artikel-artikelnya sehingga tulisannya tersebar di mana-mana.

Keikhlasan dalam berdakwah juga akan membuahkan hasil walaupun orang itu sudah meninggal dunia. Dikatakan bahwa diantara sebab kitab-kitab Imam an-Nawawi (wafat 676 H) -seperti kitab Arba'in dan Riyadhus Shalihin- sangat terkenal dan dibaca manusia sampai sekarang adalah karena keikhlasan beliau dalam menulisnya. Padahal Imam an-Nawawi bukanlah orang yang paling pandai (‘alim) di zamannya. Tapi karena keikhlasannya, maka Allah memberkahi tulisan-tulisannya sehingga kitab-kitabnya sampai saat ini selalu menjadi rujukan manusia.

Semoga Allah mengkaruniakan niat yang ikhlas dalam berdakwah kepada kita semua.

Selasa, 22 Februari 2011

Qona’ah

Qona’ah adalah merasa cukup dengan apa yang telah Allah karuniakan kepada kita. Dalam prakteknya, qona’ah tidaklah mudah seperti yang dikira. Karena tabiat manusia adalah menyenangi dunia dan selalu berusaha memperbanyak harta. Maka sifat qona’ah menjadi langka dan hanya sedikit manusia yang memilikinya.

Sebenarnya faedah terbesar dari qona’ah adalah merasakan ketenangan jiwa. Orang yang qona’ah selalu merasa puas dan ridha dengan apa yang telah ada, sehingga ia dapat fokus mengumpulkan bekal untuk menyambut kematian yang tak diketahui kapan datangnya. Seorang salaf yang bernama Syumaith bin ‘Ajlan pernah berkata : “Siapa yang menjadikan kematian di hadapannya, niscaya dia tidak akan peduli akan sempit atau luasnya dunia.” (Shifatush Shafwah : 2/166).

Seorang penyair berkata :

هي القناعة لا تبغي بها بديلا
فيها النعيم وفيها راحة البدن
انظرلمن ملك الدنيا بأجمعها
هل راح بغير القطن والكفن

Ia adalah sifat qona'ah yang tidak ada gantinya,
Di dalamnya ada kenikmatan dan kesenangan untuk badan,
Lihatlah orang yang memiliki dunia dengan apa yang dikumpulkannya,
Apakah dia pergi dengan selain kapas dan kafan.”

Selasa, 08 Februari 2011

Penyebab Kedamaian Hati

Al-Hasan pernah berkata : “Carilah kenikmatan (kedamaian hati) dalam tiga perkara, yakni dalam shalat, dalam membaca Al-Qur’an, dan dalam berzikir. Jika tidak menemukan kenikmatan dalam perkara tersebut maka ketahuilah bahwa pintu hati anda telah tertutup oleh kabut dosa.” (Hilyatul Auliya’ : 6/171, Abu Nu’aim Al-Ashfahani).

Alangkah benarnya perkataan beliau, karena sesungguhnya dosa-dosa dapat menghalangi kenikmatan beribadah dan membuat hati menjadi mati. Sebagaimana dikatakan para salaf :

رأيت الذنوب تميت القلوب
وقد يورث الذل إدمانها
ترك الذنوب حياة القلوب
وخير لنفسك عصيانها

Aku melihat dosa-dosa itu mematikan hati
Dan selalu melakukan dosa akan menyebabkan kehinaan
Meninggalkan dosa-dosa dapat menghidupkan hati
Dan yang terbaik bagimu adalah menjauhinya.”

Wuhaib bin Ward pernah ditanya : “Dapatkah seorang ahli maksiat merasakan nikmatnya ibadah?”. Maka Wuhaib bin Ward berkata, “Tidak. Bahkan orang yang memikirkan maksiat pun tidak dapat merasakannya.” (Hilyatul Auliya’ : 8/144).

Selasa, 25 Januari 2011

Sahabat Sejati

Dulu ada penyair yang mengatakan :

ليس الكريم الذي إن زل صاحبه
بث الذي كان من أسراره علما
إن الكريم الذي تبقى مودته
ويحفظ السر إن صافى وإن صرما

Bukanlah orang yang mulia jika bersalah sahabatnya,
Dia lalu menyebarkan rahasia sahabatnya yang diketahuinya,
Sesungguhnya orang yang mulia adalah yang tetap cinta kepada sahabatnya,
Dan tetap menjaga rahasianya walaupun persahabatannya porak poranda.”

Manusia jika marah dengan sahabatnya biasanya akan membuka aib dan rahasia sahabatnya. Padahal jika ia menyimpannya di dasar jiwa dan membiarkannya tetap disana, ia akan mampu melupakan sakit hatinya setelah sekian lama.

Karena tidaklah semua yang diketahui mesti diceritakan.
Dan tidaklah semua yang mesti diceritakan disampaikan kepada setiap orang.

Senin, 24 Januari 2011

Berapakah Usiamu Wahai Kawan?

Berapakah usiamu wahai kawan?
Bukankah usiamu sudah masuk tiga puluhan
Tapi kulihat ilmumu hanya sedikit mengalami penambahan
Juga tak satu pun karya yang telah kau tuliskan

Berapakah usiamu wahai kawan?
Tidakkah kau malu dengan pendahulumu di zaman silam
Yang usianya pendek tapi penuh keberkahan
Mereka menjadi ulama dan menulis banyak karangan
Walaupun mati muda tapi jasanya tidak akan terlupakan

Berapakah usiamu wahai kawan?
Al-Laknawi usianya hanya 39 tahun tapi ia menulis kitab sebanyak ratusan*
Al-Hazimi umurnya berakhir 36 tahun dan ia mengarang kitab yang mengagumkan**
Al-Hakami meninggal dunia di usia 35 tahun tapi karangannya sungguh menakjubkan***
Sayyid Shalah bin Ahmad wafat di usia 29 tahun dan dia dipuji Asy-Syaukani dari Yaman****
Dan Ahmad bin Nasrullah Al-Bulqasi menjadi imam walaupun usianya hanya 28 tahunan*****

Berapakah usiamu wahai kawan?
Jangan kau habiskan usiamu dalam urusan keduniawian
Selalu hindarilah perkara-perkara yang menyibukkan
Tak lupa kuingatkan agar jangan larut dalam hal kesia-siaan
Karena waktu sangat berharga dan dunia berada dalam kefanaan
Maka segeralah berlari dan tinggalkan penyakit kemalasan

(P/s : Puisi ini ditulis untuk diri ana sendiri).

Keterangan :
* Imam al-Laknawi wafat pada tahun 1304 H dalam usia 39 tahun. Dikatakan ia mengarang lebih dari seratus kitab, ada yang mengatakan sebanyak 104, ada yang mengatakan 115. Kitab karangannya diantaranya : Al-Raf’u wa al-Takmil fi Jarh wa al-Ta’dil, al-Ajwibat al-Fadhilah ‘an al-As’ilah al-‘Asyarah al-Kamilah, Zhafr al-Amani fi Syarh al-Mukhtasar al-Mansub li al-Jurjani, Al-Atsar al-Marfu’ah fi al-Akhbar al-Maudhu’ah, dll.
** Imam al-Hazimi wafat pada tahun 584 H dalam usia 36 tahun sebagaimana dikatakan Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala'. Ada juga riwayat mengatakan al-Hazimi wafat dalam usia 35 tahun. Karangan Imam al-Hazimi yang terkenal adalah Al-I’tibar fin Nasikh wal Mansukh minal Atsar.
*** Syaikh Hafizh al-Hakami, salah seorang ulama abad ini wafat pada tahun 1377 H dalam usia 35 tahun. Beliau penulis kitab A'lamus Sunnah al-Mansyuroh, Ma’arijul Qobul, Al-Jauharatul Faridah fi al-Aqidah, Al-Lu’lu al-Maknun fi Ahwalis Sanad wal Mutun, An-Nurul Faidh ila llmil Faraidh, Sullamul Wushul fi Ilmil Ushul, dan Al-Ushul fi Manhajil Ushul.
**** Sayyid Shalah bin Ahmad al-Yamani wafat pada tahun 1034 H. Beliau dipuji oleh Asy-Syaukani dalam kitabnya Al-Badr Ath-Thali'. Asy-Syaukani mengatakan bahwa walaupun usianya hanya 29 tahun tetapi dia memiliki karya-karya yang berfaedah dan menguasai pelbagai disiplin ilmu.
***** Ahmad bin Nasrullah Al-Bulqasi disebutkan oleh As-Sakhawi dalam kitabnya Ad-Dhau’ al-Lami’. Beliau wafat pada tahun 852 H dalam usia 28 tahun.

Kamis, 20 Januari 2011

Mengapa Blog Ini Judulnya Faidah Ilmu?

Mengapa blog ini ana beri judul Faidah Ilmu? Itu karena kegemaran ana mengumpulkan faidah-faidah yang ana dapatkan selama menuntut ilmu, baik dari guru, teman maupun buku. Yang ana maksudkan dengan faidah (fawaid) adalah mutiara ilmu dan hal-hal penting yang diperoleh dari pelbagai cabang ilmu seperti tafsir, hadits, fiqih, akhlak, bahasa, syair, sejarah, kisah, fatwa dan lain sebagainya.

Kegiatan mengumpulkan faidah bukanlah hal yang baru. Para ulama sejak dulu membukukan faidah-faidah ilmiyah yang mereka dapatkan. Kitab-kitab khusus yang memuat faidah-faidah ilmiyah seperti kitab :
- Al-Funun karya Ibnu 'Aqil yang dikatakan berjumlah 800 jilid.
- Qaid al-Awabid karya Ad-Daghuli sebanyak 400 jilid.
- Majma’ al-Fawaid dan Manba’ al-Faraid serta at-Tadzkirah karya al-Maqrizi sebanyak 100 jilid (ada juga yang mengatakan 80 jilid).
- At-Tadzkirah karya Al-Kindi sebanyak 50 jilid.
- Tadzkirah as-Suyuthi dalam 50 jilid.
- Tadzkirah ash-Shafadi jumlahnya 30 jilid.
- ‘Uyun al-Awabid karya Ibnu an-Najjar dalam 6 jilid.
- Shaid al-Khatir karya Ibnul Jauzi.
- Al-Fawaid al-‘Awaniyyah karya Al-Wazir Ibnu Hubairah.
- Bada’i al-Fawaid dan Al-Fawaid karya Ibnul Qayyim.

Sedangkan karya ulama kontemporer seperti :
- Al-Muntaqah min Fawaidil Fawaid oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.
- Al-Muntaqah min Fathil Bari oleh Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad.
- Al-Fawaidul Muntaqah min Syarh Shahih Muslim oleh Sulthan bin ‘Abdillah al-‘Umari.

Para ulama menasihatkan jika mendapatkan faidah segeralah untuk dicatat. Karena faidah ibarat mutiara yang mudah hilang dan terlupa. Sebagaimana yang dikatakan Imam an-Nawawi dalam Majmu’ (1/39) : “Janganlah seseorang meremehkan suatu ilmu (faidah) yang dia lihat atau dia dengar. Segeralah mencatatnya atau menelaahnya.”

Ibnul Abbar dalam Mu’jam Ashhab ash-Shadafi ketika menceritakan biografi Abul Qasim Ibnu Warad at-Tamimi (wafat 540 H), berkata : “Setiap buku yang ditunjukkan kepadanya maka pasti akan dibacanya dari awal sampai akhir. Jika dia mendapatkan suatu faidah, dia segera mencatatnya hingga menjadi sebuah pembahasan baru.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asqalani dalam kitab Ad-Durar al-Kaminah (3/397) ketika menceritakan biografi Az-Zarkasyi -penulis kitab Al-Bahr al-Muhith yang terkenal- menceritakan bahwa Az-Zarkasyi sering bolak-balik ke tempat penjual buku untuk menelaah buku-buku. Jika dia mendapatkan suatu faidah yang mengagumkan maka dia akan mencatatnya dan setelah pulang dia akan membahasnya ke dalam tulisannya.

Diantara para ulama bahkan ada yang menyesal karena tidak mencatat faidah yang mereka dapatkan. Murid Ibnu Hajar Asqalani yakni As-Sakhawi dalam kitabnya Al-Jawahir wa ad-Durar (2/611) menceritakan bahwa gurunya pernah menyesal tidak mencatat faidah yang beliau temukan dalam sebuah ayat Al-Qur’an.

Demikianlah keadaan para ulama kita yang mulia -semoga Allah merahmati mereka semua-. Semoga dengan mengetahui kisahnya dapat memotivasi jiwa-jiwa penuntut ilmu yang semakin melemah, menghidupkan semangat-semangat yang hampir mati, dan membakar gairah-gairah menelaah yang hampir padam, disebabkan banyaknya fitnah syahwat dan syubhat di zaman ini. Hanya kepada Allah kita mengadu dan memohon pertolongan.

Senin, 17 Januari 2011

Tidak Ada Kekuasaan Abadi Di Dunia Ini

Beberapa hari terakhir ini, peristiwa di Tunisia menarik perhatian seluruh warga dunia. Seluruh media memberitakan tentang tumbangnya penguasa negeri itu yang telah berkuasa selama 23 tahun (mengingatkan ana dengan kejadian serupa di Indonesia tiga belas tahun yang lalu). Dari peristiwa tersebut, semoga para pemimpin-pemimpin negara lainnya dapat mengambil pelajaran bahwa tidak ada kekuasaan yang abadi di dunia. Jika Allah berkehendak, maka jatuhlah pemimpin suatu negara dari jalan yang tidak mereka sangka-sangka, dan pergiliran kekuasaan antar manusia merupakan suatu kemestian adanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)”. (QS. Ali Imran : 140).

Sungguh indah seorang penyair yang berkata :

لكل شىء إذا ماتم نقصان
فلا يغر بطيب العــيــش إنسانُ

هي الأمور كما شاهدتها دول
من سرهُ زَمنٌ ساءته أزمانُ

وهذه الدار لا تُبقي على أحد
ولا يدوم على حال لها شانُ

Segala sesuatu akan turun jika telah sampai puncaknya,
Oleh karena itu janganlah manusia tertipu dengan keindahan dunia;

Hal ini sebagaimana yang telah disaksikan oleh setiap bangsa,
Barangsiapa yang hari ini gembira hari-hari berikutnya dia akan menderita;

Dunia ini tidak pernah kekal abadi bagi semua orang,
Dan manusia tidak akan tetap dalam satu keadaan.”