Kamis, 22 September 2011

Keinginan Manusia Tidak Selalu Bermaslahat Untuk Dirinya

Mungkin saja jiwa seorang hamba menginginkan salah satu perkara dunia, yang mana ia menganggap dengan hal itu ia dapat mencapai tujuannya. Tapi Allah -dengan belas kasih-Nya- mengetahui bahwa hal itu merugikan buat hamba-Nya, kemudian Allah menghalangi keinginan hamba-Nya tersebut. Lalu hamba itu tidak menyukai keadaannya, dan ia tidak mengetahui bahwa Allah telah mengasihinya, dimana Dia meneguhkan perkara yang bermanfaat bagi hamba-Nya dan memalingkan perkara yang merugikan hamba-Nya.

Betapa banyak manusia yang sesak dan sempit dadanya karena kehilangan sesuatu yang disukai, atau datangnya sesuatu yang menyedihkan. Ketika hikmah perkara itu tersingkap dan rahasia takdir diketahui, anda akan melihatnya bergembira karena akibatnya ternyata baik untuk dirinya.

Dikatakan :

وربما سرني ما كنت أحذره
وربما ساءني ما كنت أرجوه

Mungkin baik untukku sesuatu yang dulu aku menghindarinya,
Dan mungkin buruk untukku sesuatu yang dulu aku mengharapkannya.”

(Al-Iman bil Qadha' wal Qadar, Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, hal. 99-100 dengan diringkas).

4 komentar:

  1. Dikatakan :
    Assalamu'alaikum warahmatullai wabarakatuh akhi Igun.


    وربما سرني ما كنت أحذره
    وربما ساءني ما كنت أرجوه

    “Mungkin baik untukku sesuatu yang dulu aku menghindarinya,
    Dan mungkin buruk untukku sesuatu yang dulu aku mengharapkannya.”

    Ingin bertanya, ini adalah kata-kata dari siapa? Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd kah?

    Jazakumullahu khairan kathiran

    BalasHapus
  2. Wa'alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh ukhti ummu durrah,

    Syair tersebut bukan perkataan Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd. Syaikh hanya menukil syair tersebut tanpa menisbatkannya kepada siapa.

    P/s : Kitab-kitab karangan Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dipenuhi dengan banyak syair. Dan itu adalah ciri khas tulisan-tulisan beliau. Semoga Allah selalu memberkatinya.

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum
    Bila sesuatu perkara itu terhalang drpd dikecapi oleh kita, bagaimana untuk mengetahui samada ianya sebagai rahmat/ujian Allah atau disebabkan dosa/kesalahan sendiri?
    Jazakallah - nby

    BalasHapus
  4. Wa’alaykumussalam warahmatullah

    Sdr/Sdri Nby,

    Jika Allah mentakdirkan kita terhalang untuk mendapatkan suatu perkara, maka boleh jadi sebagai rahmat/ujian, boleh jadi pula kerana dosa/kesalahan, atau boleh jadi kerana kedua-duanya. Saya katakan “boleh jadi”, kerana tidak ada jalan secara pasti untuk mengetahui hikmah disebalik peristiwa tersebut.

    Kita tidaklah diwajibkan untuk mengetahui hikmah dari setiap takdir yang menimpa kita. Hal ini kerana akal kita sangat terbatas, sehingga kita tidak akan mampu jika dibebani hal tersebut. Yang mesti kita lakukan adalah mengimani setiap ketentuan yang telah ditakdirkan, dengan tetap berprasangka baik bahwa takdir Allah pasti mempunyai hikmah di sisi-Nya.

    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216).

    BalasHapus