Senin, 20 September 2010

Antara Dosa, Sakit Dan Musibah

Tepat pada hari 1 Syawwal -Alhamdulillah dalam segala keadaan- ana ditakdirkan Allah menderita sakit demam. Jadi di saat semua orang bergembira ria di hari raya, ana hanya berbaring di tempat tidur sambil berselimut tebal.

Ketika sakit yang terucap hanyalah ucapan istighfar serta terbayang akan dosa-dosa yang telah dilakukan. Ya, karena sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits bahwa sakit dan musibah merupakan penghapus dosa, maka pemahaman kebalikannya (mafhum mukhalafah) adalah : dosa merupakan sebab turunnya sakit dan musibah, yang boleh jadi tidak hanya berasal dari dosa besar, namun mungkin saja berasal dari dosa kecil yang dianggap remeh.

Al Imam Ibnu Hajar Asqalani ketika menjelaskan hadits tentang seorang mukmin yang melihat dosa-dosanya seolah-olah ia sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung tersebut runtuh menimpanya, sedangkan seorang fajir (pelaku maksiat) memandang remeh dosa-dosanya bagaikan seekor lalat yang lewat di hidungnya lalu dengan mudah ia menghalaunya, kemudian Ibnu Hajar menukil perkataan Ibnu Batthal yang berkata :
“Dari hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa hendaknya seorang mukmin mempunyai perasaan takut yang besar terhadap balasan Allah akibat dosa-dosa yang ia lakukan, baik dosa kecil maupun dosa besar. Sebab, terkadang Allah mengazab seorang hamba karena dosa kecil yang ia lakukan, dan Allah tidak ditanya terhadap apa yang dikerjakan-Nya.” (Fathul Baari : 11/109).

Ibnu ‘Aun berkata : “Janganlah engkau merasa selamat dengan banyaknya amal, karena sesungguhnya engkau tidak tahu apakah amalmu diterima atau tidak. Dan janganlah engkau merasa aman dari dosa-dosamu, karena sesungguhnya engkau tidak tahu apakah dosa-dosamu diampuni atau tidak.” (Jami’ul Ulum Wal Hikam : 1/174).

Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya tidak meremehkan dosa-dosa kecil, karena bisa jadi dosa kecil tersebut sumber sakit dan musibah yang menimpanya. Bukankah dosa kecil kalau ditumpuk maka akan menjadi besar ? Seperti dikatakan :

لاتحقرن من الذنوب أقلها
إن القليل إلى اقليل كثير

Janganlah engkau remehkan dosa kecil yang tidak seberapa,
Karena dosa kecil kalau terus dikerjakan maka akan menjadi besar pula.”

Semoga Allah merahmati Bilal bin Sa’ad yang berkata : “Janganlah engkau melihat kecil maksiat yang engkau lakukan, tetapi lihatlah keagungan Zat yang engkau maksiati.” (Minhajul Qashidin : 282, Ibnul Jauzi).

2 komentar:

  1. Assalaamu'alaykum..

    Syafakallah ya akhi.. saya ingin kongsikan perkataan yg buat saya sedikit gembira bila terfikirkan dosa yg kita buat..

    Hasil godaan syaitan, manusia tidak terlepas dari dosa, namun selepasitu, pastikan syaitan bersedih dengan dosa kita. Jadikan dosa lalu sebagai motivasi mengganda amal & merendah diri. Sesungguhnya, menyedari diri berdosa mampu mengelak diri dari penyakit hati riya’, ‘ujub, sum’ah, takbur dan sifat munafiq. Wahai diri, usahalah agar syaitan berdukacita. Nescaya imanmu bergembira.

    =zaharuddin.net=

    BalasHapus
  2. Wa’alaykumussalam warahmatullah…

    Alhamdulillah, ana sekarang sudah sembuh.
    Memang benar, semestinya kita harus membuat syaitan marah dan sedih kerana setelah bertungkus lumus menggoda dan menjerumuskan manusia berbuat dosa, tetapi hasil pekerjaan mereka menjadi sia-sia kerana dihapus dengan istighfar, amal soleh, dan muhasabah diri menjadi lebih baik.

    Maka buatlah syaitan marah dan sedih karena hal tersebut merupakan salah satu bentuk ibadah kepada-Nya, sebagaimana dikatakan sebagian ulama : “Allah mencintai hamba-Nya yang telah berhasil membuat marah musuh-Nya”.

    BalasHapus