Minggu, 25 Juli 2010

Petaka Lisan : Ketika Ucapan Berbalik Kepada Pengucapnya

Dalam kehidupan sehari-hari amatlah mudah kita temukan manusia yang gemar melecehkan dan merendahkan orang lain. Terlebih jika seseorang memiliki kekurangan dalam hal fisik, mental, harta, maupun agama, maka jadilah ia sasaran ejekan manusia.

Padahal melecehkan manusia adalah haram hukumnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بِحَسبِ امْرِئٍ مِن الشَّرّ أن يَحْقِر أخاه الْمُسْلم، كلّ المُسْلم عَلَى الْمسلم حَرَام دَمُه وَمَاله وَعرْضه

Cukuplah menjadi keburukan bagi seseorang dengan merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya adalah haram, yaitu darahnya, hartanya dan kehormatannya”. (HR. Muslim).

Hendaknya setiap diri takut kepada Allah, yang mana Allah akan menimpakan bala’ (musibah) kepada lisan-lisan yang gemar menggunjing manusia, dan acapkali bala’ tersebut terjadi di dunia yakni dengan cara ucapan pelecahan tersebut berbalik kepada pengucapnya. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

لاَ يَرْمِيْ رَجُلٌ رَجُلاً باِلْفُسُوْقِ وَلاَ يَرْمِيْهِ بِالْكُفْرِ إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذلِكَ

Tidaklah seseorang melemparkan tuduhan kepada yang lain dengan kefasikan, dan tidak pula kekafiran, melainkan hal itu akan kembali kepadanya apabila yang dituduh ternyata tidak demikian”. (HR. Bukhari).

Beberapa kisah berikut semoga dapat menjadi pelajaran :

- Ibnu Sirin berkata : “Aku pernah mengejek orang yang sedang mengalami kebangkrutan. Lalu justru aku yang ditimpa kebangkrutan”. Dalam riwayat lain beliau pernah mengatakan kepada seseorang : “Wahai orang yang bangkrut!”. Tak lama setelahnya beliau dihukum penjara karena bangkrut dan tidak dapat membayar hutang. (Tarikh Baghdad : 5/334, Al-Khatib al-Baghdadi; Siyar A’lam an-Nubala : 4/616, adz-Dzahabi; al-Adab asy-Syar’iyyah : 1/341, Ibnu Muflih).

- Diceritakan bahwa al-Kisa’i -seorang ahli nahwu dan qira’ah- bertemu dengan al-Yazidi -juga seorang ahli nahwu- di tempat khalifah Harun ar-Rasyid. Lalu ketika masuk waktu shalat ditunjuklah al-Kisa’i menjadi imam, dan beliau salah ketika membaca surah al-Kafirun. Setelah shalat al-Yazidi mengejeknya dan berkata: “Seorang qari kota Kufah salah dalam membaca surah al-Kafirun ?!”.
Beberapa waktu kemudian, al-Kisa’i bertemu kembali dengan al-Yazidi, dan ketika masuk waktu shalat ditunjuklah al-Yazidi menjadi imam. Ketika al-Yazidi menjadi imam, beliau salah dalam membaca surah al-Fatihah (!!). Setelah shalat al-Kisa’i berkata dalam bentuk untaian syair :

احفظ لسانك لا تقل فتبتلى
إن البلاء مو كل بالنطق

Jagalah lisanmu jangan berkomentar, sebab engkau pun dapat ditimpa ujian;
Sesungguhnya bala’ itu dapat disebabkan oleh ucapan”.
(Thabaqat al-Mufassirin : 1/403, ad-Dawudi).

- Ada orang yang berkata : “Aku pernah mencela seseorang yang telah hilang sebagian giginya. Lalu gigiku pun lenyap semuanya!”. (Al-Adab asy-Syar’iyyah : 1/341, Ibnu Muflih).

Semoga kita dapat mengambil ibrah dari beberapa kisah tersebut. Terakhir, dengarlah nasihat dari Ibrahim an-Nakha’i, beliau berkata:
“Sesungguhnya aku mendapatkan jiwaku membisikkan kepadaku agar mengatakan sesuatu. Tidaklah ada yang mencegahku dari mengatakannya melainkan kekhawatiranku akan tertimpa seperti yang kuucapkan”. (Dzamm al-Baghyi : 56, Ibnu Abid Dunya).

3 komentar:

  1. Assalamu'alaikum..

    Maksudnya.. Imam Ibnu Sirin(meninggal 110H) pernah masuk penjara la ni..??

    BalasHapus
  2. Wa'alaykumussalam warahmatullah..

    Ya benar, Imam Ibnu Sirin pernah masuk penjara kerana tidak mampu membayar hutang. Beliau adalah seorang pedagang. Penyebab beliau bangkrut adalah kerana pada suatu hari beliau membeli minyak seharga 40.000 dirham secara hutang/kredit. Lalu ketika diperiksa ternyata ada bangkai tikus dalam minyak tersebut. Beliau lalu berpikir jika ia mengembalikan minyak tersebut kepada pemiliknya, maka pemilik minyak pasti akan menjual minyak itu kepada orang lain, padahal minyak tersebut sudah ‘terkontaminasi’ dengan bangkai tikus.
    Ibnu Sirin sebagai seorang ulama yang wara’ dan selalu menghindari perkara yang syubhat, kemudian membuat keputusan membuang semua minyak tersebut.

    Kejadian ini terjadi di saat perniagaannya sedang merugi, sehingga ia tidak mampu membayar hutang kepada pemilik minyak. Pemilik minyak lalu mengadukannya kepada hakim. Akhirnya beliau dipenjara sampai ia bisa membayar semua hutangnya.

    Ada kisah menarik ketika beliau dipenjara. Ketika beliau dipenjara, penjaga penjara bersimpati dengan beliau -kerana Ibnu Sirin seorang ulama besar-, maka penjaga penjara berkata : "Syaikh, apabila malam hari, maka keluarlah engkau dari penjara dan pulanglah ke keluargamu. Kembalilah ke penjara ini apabila telah datang waktu pagi".
    Ibnu Sirin menolak dan berkata : "Tidak, demi Allah! Aku tidak akan bekerjasama dalam mengkhianati penguasa".
    (Rujukan : Siyar A’lam an-Nubala : 4/616-617, adz-Dzahabi, dll).

    BalasHapus